Aloling Simalungun
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman
Sabtu, 6 Juni 2026
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
No Result
View All Result
Aloling Simalungun
No Result
View All Result
  • SMSI
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
Home Inspirasi

Penyesalan

Oleh : Asmen,S.Pd.,MM

by Redaksi
4 Mei 2021 | 01:27 WIB
in Inspirasi
A A
ADVERTISEMENT
107
SHARES
134
VIEWS

NABI MUSA AS memimpin rombongan sahabat beliau untuk berda’wah di kampung sebelah. Jalan satu- satunya yang ada untuk menuju tempat tersebut melalui sebuah terowongan yang menembus perbukitan.

Di dalam terowongan tersebut banyak stalagtit dan stalagmit serta cadas yang tajam dan sangat muda melukai tubuh orang yang menyentuhnya.

Untuk itu, sebelum memasuki terowongan, Musa memberikan arahan (brieffing) kepada rombongan, agar tidak terjadi hal- hal yang tidak diinginkan, mengingat mereka tidak membawa suluh atau lampu. Pada hal terowongan tersebut cukup panjang, sehingga di dalam terowongan sangat gelap.

“Saudara- saudaraku, kita akan memasuki terowongan panjang ini, di dalam terowongan ini sangat gelap, serta banyak batu cadas yang tajam yang siap melukai siapapun yang tidak berhati-hati, sementara kita tidak berbekal suluh atau lampu. Untuk itu masing- masing harus mengendalikan dirinya agar dapat selamat mencapai seberang bukit ini” kata Musa.

Dan Musa melanjutkan pengarahannya, mengatakan, bahwa di tengah- tengah terowongan ada hamparan yang luas, Musa menjelaskan , bahwa di lokasi hamparan tersebut bertabur benda- benda.

Namun Musa menegaskan, “jika kalian mengambil dan membawa benda- benda tersebut, maka kalian akan menyesal, kalaupun kalian tidak mengambil dan membawanya, juga kalian akan menyesal”.

Usai menyampaikan arahannya, maka Musa mempersilakan rombongan memasuki terowongan itu, terdengar sesekali suara mereka mengaduh kesakitan, mungkin karena terluka atau tersandung kaki mereka pada batu-batuan cadas.

Sesampainya pada tempat yang dimaksudkan Musa yaitu di tengah-tengah terowongan, Musa menghentikan perjalanan mereka. “Kita berhenti dan beristirahat dulu sejenak di sini, inilah tempat atau hamparan yang saya maksudkan, maka silakan rabah dan pegang dan boleh kalian bawa atau boleh juga kalian abaikan, karena siapa yang membawanya pasti akan menyesal, yang tidak membawanya juga pasti akan menyesal.” Kata Musa.

Beberapa orang membawa sesuai keinginan masing- masing dan tidak menyulitkan perjalanan mereka, diantaranya ada yang membawa sekedar sebesar kelereng atau kelingking, untuk menghilangkan rasa oenasaran nanti, sebagian membawa sekedar genggaman tangan, alasannya sudah capek, membawa bekal di pundak saja terasa berat.

Beberapa orang sama sekali tak membawa, mereka berpikir untuk apa mempersulit diri “toh pasti menyesal” dan teman- teman sudah cukup untuk menghilangkan rasa penasaran tersebut.

Perjalanan dilanjutkan, beberapa jam mereka telah sampai di bibir terowongan seberang dekat kampung yang dituju.

Musa menghentikan kafilah (rombongan) tersebut untuk beristirahat, mereka sudah sangat keletihan. Lalu Musa membuka percakapan “Adakah diantara kalian yang membawa benda yang saya maksudkan tadi, maka bagi yang membawanya agar segera memperlihatkan kepada kita semua”.

Lalu satu persatu mereka yang membawa benda tersebut mengeluarkan danmenunjukkannya untuk diperlihatkan kepada semua orang dalam rombongan tersebut.

Benar saja semua orang yang ikut dalam rombongan tersebut menyesal sejadi- jadinya. Ternyata benda tersebut adalah emas.

“Pada hal saya masih bisa membawa yang lebih besar dari ini” masing- masing mengeluh dan penyesalan yang bersangatan. Namun yang paling menyesal berat adalah mereka yang sama sekali tidak membawa benda emas tersebut.

Demikianlah keberadaan kita kita nanti ketika kita keluar dari dunia ini, menuju alam barzakh atau berhadapan dengan Allah SWT. Begitu besarnya penghargaan Allah SWT terhadap amal ibadah seseorang. Maka orang yang membawa amal ibadah yang banyak akan menyesal, “Sesungguhnya aku masih dapat melakukan ibadah jauh lebih besar dari ini, baca Qur’an di sela waktu, berzikir sambil berkenderaan atau shalat sunat yang begitu luang waktuku di dunia dulu” Lalu mereka yang membawa amal ibadah sedikit, juga akan menangis dalam penyesalan “Mengapa aku dahulu tidak menambahi amalku dengan ibadah ini dan itu, aku lebih senang ngobrol dengan teman- temanku atau lebih banyak bermain dari pada mendekatkan diri kepada Allah SWT. Yang paling berat penyesalannya adalah mereka yang hadir di hadapanNya tanpa membawa amal ibadah, mereka meraung- raung meratapi dirinya yang telah mengabaikan pertemuan dengan Tuhannya.

Mereka lalai terhadap perintah Allah dan suka dengan memaksiatiNya. Sungguh semuanya merupakan penyesalan yang tak berguna. Nasi sudah menjadi bubur, sungguh waktu tak dapat lagi ditarik mundur kebelakang.

Firman Allah SWT “Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”. (QS : Al A’raf ; 8-9) Selagi lorong kehidupan kita masih terbentang di depan mata, maka mari kita bingkai langkah kita dengan iman dan taqwa padaNya. Sebelum layar kehidupan kita digulung dan ditutupNya, maka setiap kesempatan mari kita hiasi dengan warna- warni ibadah kepadaNya.(***)

Asmen, S.Pd.,MM : Pengawas SMK Kemendikbud Sumatera Utara dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Dolok Maraja, Tapian Dolok, Simalungun

Tags: asmenmusatulisan
Share43Tweet27SendShare
ADVERTISEMENT

Berita Terkait

Inspirasi

HPSI Gelar Sosialisasi Partuturan dan Pakaian Adat Simalungun kepada Siswa SMA GKPS Pamatang Raya Simalungun, Aloling Simalungun Harungguan Purba Simalungun Indonesia (HPSI) merasa terpanggil dan bertanggung jawab dalam mensosialisakan adat dan budaya simalungun kepada generasi penerus bangsa yang merupakan garda terdepan dalam melestarikan adat dan budaya. Bertempat di Gedung Aula SMA GKPS Pamatang Raya pada hari Jumat, 8 Mei 2026 acara tersebut dibuka langsung oleh Ketua Umum HPSI bapak Mangapul Purba, S.E,M.I.Kom yang juga ketua fraksi PDIP DPRD Sumatera Utara telah berlangsung dengan baik.Dalam sambutannya beliau menyatakan bahwa peradaban bangsa Indonesia tidak terlepas dari Kebudayaan Daerah, kebudayaan menjadi salah satu factor utama dalam pembangunan nasional Peserta sosialisasi terdiri dari Siswa dan Guru SMA GKPS Pematang Raya dibawah kepemimpinan Kepala Sekolah, Julven Purba, S.Pd, dalam sambutannya beliau sangat berterimakasih atas kegiatan ini sehingga dengan kegiatan ini kami semakin memahami bagaimana adat budaya Simalungun itu dilaksanakan pada kehidupan sehari-hari khusunya tentang partuturan Adat Budaya Simalungun yang setiap hari baik dilingkungan keluarga, lingkungan sekolah selalu diterapkan, tata karma bagi kami terkhusus siswa dapat diterapkan sebagaimana lazimnya pada budaya simalungun, demikin juga tentang pemakaian adat dan budaya Simalungun. Diawal acara dilaksanakan acara pangalo-aloan kepada Rombongan HPSI dengan tortor Simalungun yang ditampilkan oleh Siswa SMA GKPS, dilanjutkan dengan ibadah, kemudian acara nasional menyanyikan lagu Indonesia Raya dan acara Sosilasisasi. Rohdian Purba, S,Si,M.Si selaku Sekretaris DPP HPSI yang juga menjadi narasumber dengan Materi Partuturan Adat Budaya Simalungun menjelaskan bahwa pada saat sekarang ini anak-anak milenial sudah banyak tidak memahami tentang partuturan dalam adat budaya simalungun, sekarang ini akibat ketidak pahaman mereka maka banyhak bersalahan pada panggilan terhadap sesama, orangtua dan kerabat keluarga lainnya, bilama mana tidak kita tanamkan, sosialisasikan partuturan simalungun dimaksud dikwatirkan 10 sampai 20 tahun kedepan maka akan tergerus bahkan hilang sehingga berakibatkan hubungan kekerabatan yang baik selama ini akan menjadi masalah yang sangat besar, mengapa misalnya panggilan makela dalam adat simalungun saat ini sudah sering didengar oleh anak nak bukan lagi makela tapi sudah dipanggil kel, panggilang tulang sudah sering kita dengar disapa oleh anak-anak menjadi tul, ini sangat menyalaha, mengapa terjadi hal demikian karena anak-anak tidak memahami sebenarnya bagiamana peran serta Sananina, Tondong dan Boru dalam peradaban adat dan Budaya Simalungun. Bahkan dalam pergaulan sehari hari antara anak-anak kuda yang berajnak dewasa bisa mengkwatirkan dalam menuju jenjang perkawinan dimasa-masa berpacaran, karena dalam adat budaya simalungun walaupun marga berbeda tidak serta merta bisa menikah/kawan misalnya; borunya namboru kita (anak perempuan dari saudara perempuan bapak) itu tidak bisa kita nikahi. Tapi borunya (anak perempuan) dari tulang kita itu bisa dinikahi yang disebut marboru tulang, atau disebut pariban. Demikian jika ibu kita memilki saudara kandung perempuan dan memilki anak perempuan (boru), kita sebagai laki-laki juga tidak bisa menikahinya, hal-hal yang seperti ini juga perlu kita ajarkan kepada generasi milenial sekarang ,apalagi mereka setelah tammat dari Sekolah akan banyak pergi merantau jauh dari orang tua, dengan tidak memahami hal dimaksud diperantauan bisa berakibat tidak baik dalam peradaban budaya simalungun nantinya, dan banyak hal lagi akibatnya jika partururan dalam budaya Simalungun tidak mereka pahami, hal ini yang perlu sejak dini kita samapaikan buat anak-anak. Demikian juga tentang pakaian adat budaya simalungun yang disamapaikan bapak Djapaten Purba, BME bahwa sejak dini perlu ditanamkan kepada anak-anak milenial, karena pada saat ini sudah banyak kita lihat ditengah-tengah masyarakat dalam acara adat budaya simalungun baik suka maupu n duka sudah tidak sesuai lagi dengan sebenarnya, menurut beliau semua pemakaian hiou simalungun itu memiliki arti dan makna khsusus bagi kehidupan sehar-hari, baik itu gotong, bulang suri-suri, ragi cantik dll termasuk tata cara pemakaiannya misalnya jika seorang bapak memakai suri-suri itu berwarna hitam namu jika perempuan memakai suri-suri bisa warna bebas, demikain juga jika sudah memakai gotong, maka wajib memakai suri-suri dan abit/ragi panei atau ragi cantik untuk laki-laki demikian juga perempuan/ inang jika sudah memakai bulang, wajib memakai suri-suri dan abit. Diakhir acara siswa dan guru SMA GKPS Pamatang Raya sangat mengapresiasi kegiatan sosialisasi ini karena mereka lebih memahami tentang adat budaya simalungun yang bisa mereka terapkan pada kehidupan sehar-hari baik dilingkungan sekolah, keluarga dan kekerabatan dalam lingkungan keluarga mereka, yang diakhiri dengan pemberian cendramata oleh kepala sekolah kepada Ketua Umum HPSI dan kedua narasumber. (rel)

by Redaksi
9 Mei 2026 | 14:54 WIB
0

Simalungun, Aloling Simalungun Harungguan Purba Simalungun Indonesia (HPSI) merasa terpanggil dan bertanggung jawab dalam mensosialisakan adat dan budaya simalungun kepada...

Read more
Inspirasi

Rohdian Purba : “Kemajuan USI Melekat Keinginan Hati untuk Memajukannya”

by Redaksi
8 Mei 2026 | 16:37 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Terkait untuk memajukan Yayasan Universitas Simalungun diutamakan adanya keinginan hati untuk bekerja maksimal dalam memajukan sekolah dan...

Read more
Inspirasi

Hari Pendidikan Nasional 2026 di SMA Negeri 1 Pematangsiantar,  August Sinaga Tekankan Peningkatan Kualitas Di Dalam Kelas

by Redaksi
2 Mei 2026 | 10:47 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Provinsi Sumatera Utara (Siantar-Simalungun) Hardiknas tidak hanya sekadar ajang seremonial, tetapi...

Read more
Inspirasi

Bedah Buku Diutus Melintasi Batas, Biografi Marie Claire Barth Frommel

by Redaksi
22 April 2026 | 08:45 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun GMKI Siantar-Simalungun dan STT HKBP P.Siantar menggelar acara Bedah Buku Diutus Melintasi Batas, Biografi Marie Claire Barth...

Read more

Discussion about this post

Berita Terbaru

Siantar - Simalungun

Oknum Ketua OKP Ganggu Pengusaha di Pekarangan RSUD Parapat 

5 Juni 2026 | 12:57 WIB
Siantar - Simalungun

Pangulu Bandar Betsy Gerak Cepat Selesaikan Polemik Penyaluran BLT

4 Juni 2026 | 10:20 WIB
Regional

Tekan Resiko Kecelakaan Perlintasan Sebidang Kereta Api, Pemko Tebing Tinggi Siapkan Langkah Konkret

3 Juni 2026 | 17:55 WIB
Nasional

ABPEDNAS Cetak Sejarah, Raih 100 Ribu Anggota Bertepatan Hari Lahir Pancasila 2026

2 Juni 2026 | 19:24 WIB
Entertainment

Parsadaan Purba Pakpak Boru Panogolan (P3BP) Gelar Rakernas di Siantar  

1 Juni 2026 | 20:17 WIB
Siantar - Simalungun

ASN Pemkab Simalungun Melaksanakan Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026: Refleksi Memastikan Pancasila Tetap Menyala

1 Juni 2026 | 20:09 WIB
Entertainment

Erik Tarigan : Anak Siantar Abetnego Tarigan Sangat Perduli dengan Siantar – Simalungun 

1 Juni 2026 | 10:35 WIB
Regional

Pemko Tebing Tinggi Raih Opini WTP Delapan Kali Berturut-Turut, Walikota: Jadikan Motivasi Pembangunan Kota yang Lebih Baik 

29 Mei 2026 | 18:50 WIB
Entertainment

Anak Siantar David Sotar Karter Pardosi Pengusaha Muda  yang Merambah Hingga ke Luar Pulau Sumatera 

28 Mei 2026 | 18:57 WIB
Siantar - Simalungun

Penyembelihan Hewan Qurban Warga Lingkungan III Kelurahan Simarito Berjalan Lancar

28 Mei 2026 | 09:28 WIB
Entertainment

Pengurus Lokal Badan Kerjasama PGI-GMKI Pematang Siantar-Simalungun Periode 2026-2031 Resmi Dilantik

25 Mei 2026 | 20:53 WIB
Siantar - Simalungun

Terima Kunjungan Pemkab Aceh Utara, Pemkab Simalungun Bantu Penanganan Bencana

25 Mei 2026 | 17:37 WIB
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun