Aloling Simalungun
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman
Rabu, 8 Juli 2026
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
No Result
View All Result
Aloling Simalungun
No Result
View All Result
  • SMSI
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
Home Wisata
Candi Muaro Jambi yang menjadi candi perpaduan Hindu-Buddha se-Asia Tenggara juga merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya (Eddy Purwanto/NurPhoto via Getty Images)

Candi Muaro Jambi yang menjadi candi perpaduan Hindu-Buddha se-Asia Tenggara juga merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya (Eddy Purwanto/NurPhoto via Getty Images)

Sejarah Kemunduran Kerajaan Sriwijaya dan Bangkitnya Kerajaan Malayu

by Redaksi
20 Juli 2021 | 02:43 WIB
in Wisata
A A
Konsep Otomatis
ADVERTISEMENT
101
SHARES
126
VIEWS

Aloling Simalungun – Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu Kerajaan bercorak Hindu Buddha yang pernah berdiri di Indonesia. Kerajaan ini dipercaya telah ada sejak tahun 671 Masehi (M). Kemunduran kerajaan maritim yang sempat menguasai wilayah Asia Tenggara ini berkaitan erat dengan Kerajaan Malayu. Dilansir dari “Kerajaan Sriwijaya: Pusat Pemerintahan dan Perkembangannya” karya Nia Kurnia Sholihat Irfan, Kerajaan Sriwijaya awalnya diduga sebagai negeri bawahan Kerajaan Malayu yang memerdekan diri. Baca juga: Mengapa Kerajaan Sriwijaya Disebut Kerajaan Maritim? Kerajaan Malayu diketahui berdiri jauh sebelum Sriwijaya.

Hal ini diketahui dari catatan “Hsin-Tang-shu”. Dalam catatan tersebut, dinyatakan bahwa utusan Mo-lo-yu (Malayu) datang ke istana China pada tahun 644-645 M. Sedangkan perwakilan Shih-li-fo-shis (Sriwijaya) baru datang untuk pertama kalinya pada tahun 670. Perebutan Selat Malaka Malayu dipercaya memiliki kekuasaan atas Selat Malaka yang menjadi tempat persinggahan utama dalam jalur pelayaran dan perdagangan antara India dan Cina.

Kekuasaan atas Selat Malaka inilah yang diduga menjadi alasan Kerajaan Sriwijaya berusaha keras untuk menaklukkan Malayu.

Lihat Foto Kerajaan Sriwijaya(indonesia.go.id)

Berdasarkan catatan I-tsing, Sriwijaya berhasil menguasai Malayu pada tahun 685 M. Ia mengatakan bahwa Malayu saat itu telah menjadi bagian dari Sriwijaya. Meski tak diketahui secara pasti kapan penaklukan tersebut dilakukan, namun sejak saat itu, Malayu diketahui menjadi kekuasaan Sriwijaya selama berabad-abad. Baca juga: Sejarah Berdirinya Kerajaan Sriwijaya Kerajaan Sriwijaya dan Selat Malaka Selat Malaka berperan penting dalam perdagangan internasional. Tak hanya itu, selat yang terletak di antara Semenanjung Malaysia dan Pulau Sumatera ini menjadi jalur perdagangan yang dilewati oleh kapal-kapal negara lain.

Mengutip website resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Selat Malaka merupakan jalur utama yang menghubungkan negara bagian barat dengan negara bagian timur.

Pada masa Kerajaan Sriwijaya, disebut ada banyak pelabuhan yang bergantung pada Selat Malaka. Salah satunya adalah India. Sebagai penguasa wilayah Selat Malaka, Sriwijaya menerapkan pajak terhadap pedagang-pedagang yang melewati selat tersebut. Bahkan beberapa menyebut bahwa pajak yang ditarik oleh Kerajaan Sriwijaya pada saat itu cukup tinggi. Tak mengherankan jika Selat Malaka memiliki peran besar dalam sektor perekonomian kerajaan. Baca juga: Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Serbuan dahsyat Colamandala Dikutip dari “Kebudayaan dan Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia” karya Anton Dwilaksana, pajak tinggi yang dikenakan oleh Kerajaan Sriwijaya pada kapal-kapal pedagang di Selat Malaka ternyata memicu konflik. Salah satu pihak yang merasa dirugikan dengan adanya penarikan pajak tersebut adalah Dinasti Cola. Dinasti yang berasal dari India Selatan ini bahkan menyerbu Kerajaan Sriwijaya sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1017 dan 1025. Akibat dari serbuan besar yang dilakukan Dinasti Cola, Sriwijaya mengalami kemunduran yang besar.

Lihat Foto Jalur perdagangan pada masa Kerajaan Sriwijaya(kemdikbud.go.id)

Bahkan beberapa daerah kekuasaannya berhasil ditaklukkan dan diambil alih oleh Dinasti Cola. Baca juga: Wilayah Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya Pergerakan Malayu Serangan Dinasti Cola yang memberikan dampak besar pada kondisi Kerajaan Sriwijaya dimanfaatkan oleh Kerajaan Malayu untuk bangkit kembali. Berdasarkan catatan sebuah prasasti yang ditemukan di Srilanka, Pangeran Suryanarayana di Malayapura (Malayu) berhasil menguasai Sumatera. Keberhasilan sang pangeran diperkirakan terjadi antara tahun 1055 sampai 1100.

Keinginan Malayu untuk memerdekakan diri dari Sriwijaya sebenarnya sudah ada sejak lama. Bahkan jauh sebelum serangan Dinasti Cola terhadap Sriwijaya terjadi. Dalam salah satu catatan sejarah, Malayu sempat mengirimkan dua utusannya ke negeri Cina. Pengiriman utusan ini bahkan terjadi dua kali pada tahun 853 dan 871 M.

Keberhasilan Pangeran Suryanarayan menguasai Sumatera menunjukkan bahwa Kerajaan Malayu berhasil bangkit dan merdeka dari Kerajaan Sriwijaya. Jejak kebangkitan Malayu ini juga tercatat pada sebuah patung yang ditemukan di daerah Soloksipin, Jambi. Dalam patung makara yang bertanggal tahun 1068 itu, terdapat pahatan nama Dharwira. Dharwira adalah salah satu tokoh besar di Kerajaan Malayu.

Lihat Foto Salah satu bukti Kerajaan Sriwijaya pernah ada(kemdikbud.go.id)

Tak hanya itu, Kronik Cina “Ling-wai-tai-ta” juga mengungkapkan bahwa pada tahun 1079, 1082, dan 1088, utusan dari Sumatera datang ke Cina. Pengakuan Kaisar Cina atas utusan-utusan tersebut menunjukkan bahwa Malayu berhasil bangkit. Pasalnya, Kaisar Cina hanya mengakui utusan dari negara-negara yang sudah merdeka. Bangkitnya Malayu pada masa itu menandakan hilangnya kekuasaan Kerajaan Sriwijaya atas Selat Malaka. Hal ini membuat Sriwijaya semakin mundur. Sriwijaya juga disebut kehilangan hubungan dengan negeri Cina. Selama abad ke-12 kerajaan ini hanya dua kali mengirim utusannya ke Cina. Berbanding terbalik dengan keruntuhan Sriwijaya, Kerajaan Malayu mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bahkan pada tahun 1183, Malayu berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke bagian utara Semenanjung Malaka. Sumber: “Kerajaan Sriwijaya: Pusat Pemerintahan dan Perkembangannya” karya Nia Kurnia Sholihat Irfan yang dipublikasikan pada 2015 oleh Kiblat Buku Utama. “Kebudayaan dan Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia” karya Anton Dwilaksana dipublikasikan oleh Dewarti Press tahun 2018. Situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).(kompas.com)

 

Tags: kemundurankerajaansriwijaya
Share40Tweet25SendShare
ADVERTISEMENT

Berita Terkait

Wisata

Kadis Pariwisata Siantar Kusdianto SH: “Pemandian Pulau Batu Siantar Destinasi Wisata yang Alami’

by Redaksi
29 Maret 2021 | 09:19 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Pemandian Pulau (Pulbat) adalah salah satu destinasi wisata bagi masyarakat Siantar bahkan luar Siantar. Pulbat yang berlokasi...

Read more
Wisata

Focus Farm Tempat Rekreasi Sambil Belajar Bisnis Pertanian

by Redaksi
27 November 2020 | 06:28 WIB
0

Karo, Aloling Simalungun Suasana sejuk dengan pemandangan gunung Sinabung, Focus Farm layak untuk dikunjungi. Selain berekreasi, kawasan daerah pertanian tanaman...

Read more
Wisata

Kawah Putih Ciwidey, Destinasi Wisata Alam Dengan Harga Tiket Masuk Terjangkau

by Redaksi
3 November 2020 | 14:16 WIB
0

Aloling Simalungun. Kawah Putih Ciwidey merupakan destinasi wisata alam dengan harga tiket masuk terjangkau. Tempat wisata ini berlokasi di Jalan...

Read more
Wisata

Mengenal Maudu Lompoa dan Bungo Lado, tradisi Maulid Nabi di Sumbar dan Sulsel

by Redaksi
29 Oktober 2020 | 05:02 WIB
0

Aloling Simalungun Momen kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awwal diperingati oleh Muslim di seluruh dunia termasuk Indonesia dengan...

Read more

Discussion about this post

Berita Terbaru

Siantar - Simalungun

Hadiri Women Program APKASI 2026, Ketua TP PKK Simalungun: Perempuan Berperan Penting dalam Pembangunan untuk Tingkatkan Daya Saing Daerah

2 Juli 2026 | 18:33 WIB
Regional

Peringatan Hari Jadi Ke 109 Kota Tebing Tinggi : Wali Kota Paparkan Capaian Strategis dalam Paripurna DPRD Hingga Penyerahan Bantuan Pertanian 

2 Juli 2026 | 12:54 WIB
Siantar - Simalungun

Hadiri Syukuran Hari Bhayangkara ke-80, Bupati Simalungun: Kolaborasi yang Solid Akan Memperkuat Stabilitas Daerah

1 Juli 2026 | 17:26 WIB
Siantar - Simalungun

Bupati Simalungun Wujudkan Harapan Masyarakat: Ujung Padang Dapat Pembangunan Jalan Terbesar dalam Sejarah

27 Juni 2026 | 18:31 WIB
Siantar - Simalungun

Sekda Simalungun Buka Business Marching Kemitraan SPPG dan UMKM Pematang Siantar-Kabupaten Simalungun

26 Juni 2026 | 18:23 WIB
Inspirasi

PUSTAKA NOMMENSEN: Kebakaran Pasar Dwikora Bukan Hanya Musibah, tetapi Alarm Tata Kelola

25 Juni 2026 | 20:47 WIB
Siantar - Simalungun

Stand Terbaik Nasional, Kabupaten Simalungun Raih Juara I Lomba Stand PENAS XVII 2026 di Gorontalo

25 Juni 2026 | 20:32 WIB
Siantar - Simalungun

Bupati Simalungun Hadir di Nagori Pamatang Gajing: Pastikan Pelayanan Publik dan Pembangunan Menjangkau Hingga Nagori

25 Juni 2026 | 19:25 WIB
Regional

Buka Rakerda Kadin 2026, Wali Kota Tebing Tinggi Tekankan Kolaborasi Atasi Tantangan Ekonomi Daerah 

25 Juni 2026 | 18:07 WIB
Siantar - Simalungun

Kwarcab Gerakan Pramuka Simalungun Gelar Muscab 2026, Sekda: Gerakan Pramuka Harus Menjadi Benteng Pertahanan Moril

25 Juni 2026 | 17:20 WIB
Siantar - Simalungun

Sekda Simalungun Ajak Pelajar Mulai Menabung Sejak Dini

24 Juni 2026 | 18:12 WIB
Siantar - Simalungun

Bupati Simalungun Apresiasi Penguatan UMKM dan Ekonomi Kerakyatan di Acara Pembukaan Street Food Jilid 3 Kota Tua Gorontalo

22 Juni 2026 | 07:20 WIB
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun