MENJADI kaya merupakan keinginan banyak orang. Karenanya, kalau banyak berlomba-lomba ingin jadi kaya, itu biasa. Tapi, kalau berlomba-lomba jadi miskin, tentu menuai tanda-tanya dan apa pula itu?.
Sekedar mengingatkan atau perlu diingatkan bagi yang mau mengingat. Di Kota Siantar, banyak orang sepertinya berlomba miskin meski bukan miskin. Tujuannya karena ingin masuk daftar sebagai penerima bantuan orang miskin dari pemerintah.
Padahal, mereka tidak tinggal di rumah sewa atau mengontrak. Punya sepeda motor untuk jalan-jalan, makan tergolong bergizi meski tidak harus memenuhi empat sehat lima sempurna, membeli pakaian juga tidak setahun sekali saat Lebaran atau Hari Natal.
Kalau dicermati sesuai data Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kota Siantar, jumlah orang miskin sebagai penerima bantuan pemerintah dari berbagai jenis bantuan, terus bertambah.
Tahun 2021 orang tergolong miskin sebagai penerima bantuan pemerintah sebanyak 27 ribu kepala keluarga (KK) dari 124 ribu kepala keluarga (KK). Jauh melejit dibanding tahun 2020 sebesar 8,27 persen. Tahun 2022, naik lagi menjadi 33 ribu KK atau 60 persen. Kalau dihitung per jiwa, ada 124 ribu dari 285 ribu jiwa penduduk Siantar, miskin.
Data itu, selain sebagai penerima bantuan dari pemerintah pusat, propinsi dan Pemko Siantar, juga yang masuk daftar tunggu untuk menerima bantuan meski tidak jelas sampai kapan menunggu. Alasan Dinas Sosial P3A, penerima bantuan belum ada diganti meski sudah diusulkan kepada Kementrian Sosial yang belum juga merubah data.
Akibatnya, masyarakat di tingkat akar rumput yang mungkin becek dan berlumpur, banyak cemburu kepada yang mengaku tetap miskin padahal tidak lagi miskin dibanding mereka yang masuk daftar tunggu yang sebenarnya lebih layak menerima bantuan pemerintah.
Bahkan, stiker miskin di depan pintu rumah orang yang mengaku miskin, dianggap biasa saja. Karena, saat bantuan akan cair, mampu merubah wajah bagai tembok untuk ikut antri dengan gaya tetap miskin. Setelah bantuan cair, penampilan berubah bagai orang kaya.
Kalau dianalisa tentang pertambahan orang miskin sebagai penerima bantuan pemerintah untuk orang miskin itu, bisa saja terjadi karena dampak pandemi Covid-19 pada dua tahun terakhir yang mendamprat perekonomian rakyat jadi terpuruk. Namun, apakah banyak berlomba-lomba miskin hanya ingin mendapat bantuan?
Menjawab pertanyaan itu, tidak semudah menghitung ternak ayam yang bertelur kemudian dieramkan dan menjadi anak ayam. Karena, bisa saja jumlah orang miskin digelembungkan untuk eksploitasi.
Sehingga, anggaran mengurusi orang miskin bertambah seperti bertambahnya orang miskin. Termasuk yang masuk daftar tunggu itu.
BELAJAR MISKIN
Hukum alam menyatakan, ada kaya, ada miskin. Karena, kalau semua kaya tidak ada miskin atau begitu sebaliknya. Tapi, bicara soal kaya dan miskin, perbandingannya jangan dir dengan materi semata. Dan, kehormatan seseorang juga tidak semata dinilai dari kekayaan meski orang kaya kerap lebih dipandang dibanding orang miskin.
Bicara soal miskin, berkaitan dengan soal hati. Orang miskin yang punya hati, dapat hidup damai dan tenang. Tidak berpikir muluk-muluk untuk memilki mobil mewah padahal sepeda motornya butut. Tida berambisi punya rumah mewah padahal tinggal di rumah sangat sederahan yang dindingnya malah mulai lapuk dimakan rayap.
Sebaliknya, kalau tidak punya hati, kaya bisa menjadi miskin. Apalagi cendrung takut kehilangan harta atau materi dan tetap ingin menambah kekayaan. Bahkan, curiga kepada orang miskin yang dianggap mengintai harta kekayaannya.
Menjadi kaya itu perlu. Kemudian, jangan pernah iri apalagi dengki dengan orang kaya. Tapi, jangan kaya melalui cara tak wajar sehingga selalu was-was kehilangan harta. Karena, semakin kaya, akan semakin cemas. Sedangkan rasa cemas, bakal mengundang penyakit. Sementara, kekayaan sejati adalah kesehatan. Enak makan dan tidur nyenyak.
Lantas kalau orang kaya selalu cemas dengan kekayaannnya, sebaiknya belajar jadi orang miskin yang selalu tenang serta damai meski hidup pas-pasan dan tidak serakah. Tidak takut, apalagi kawatir kehilangan harta. Kemudian, kalau pun tiba-tiba jatuh miskin karena nasib orang siapa tau, tidak terkejut badan karena sudah merasakan bagaimana miskin.
Orang kaya belajar miskin tidak perlu mengeluarkan banyak biaya. Menyantap nasi murah bersama pekerja informal yang tali pinggangnya selalu dikencangkan untuk menahan lapar, bermanfaat untuk merasakan bagaimana miskin. Tetap nyenyak tidur beralas kasur tipis tanpa bantal empuk sebagai pengganjal kepala.
Kalau ada orang kaya belajar miskin untuk mencari ketenangan dan kedamaian, orang miskin jangan coba belajar jadi kaya hanya karena ingin dipandang tidak sebelah mata. Karena, hidup bakal gelisah. Apalagi sudah miskin malah sombong. Sehingga selalu dicibir “tak tau diri”.
Miskin itu bukan nasib karena nasib bisa dirubah melalui kerja keras dibarengi doa. Ditambah lagi dengan tidak lebih besar pasak dari tiang. Dan, kaya itu positif asal berkah apalagi suka atau rela bersedekah serta berbudi luhur.
Sementara, kekayaan dengan mengambil jatah atau memanfaatkan orang miskin tidak akan berkah. Bahkan, karena nasib orang siapa tau, dapat tejerembab jadi miskin. Selanjutnya, berpotensi pindah tidur ke balik terali karena korupsi.
PENUTUP
Merasa tidak pernah puas dengan kekayaan dan ingin tetap menambah harta melalui berbagai cara, tidak akan pernah merasa kaya. Identik seperti meminum air laut, semakin diminum, semakin dahaga. (***)







Discussion about this post