P.Siantar, Aloling Simalungun
Untuk memperkuat perekonomian umat Islam, umjat Islam harus punya pandangan yang sama dan bersatu untuk mendukung memajukan usaha-usaha umat Islam dengan menerapkan syariah. Apalagi persaingan secara global begitu kuat.
Pernyataan itu disampaikan, Saidul Amin, Rektor Universitas Muhammadiyah Riau, pada sosialisasi Ekonomi Syariah yang digelar Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat, Majelis Ulama Islam (MUI) Kota Siantar. Berlangsung di aula MUI Kota Siantar, Minggu (16/10/2022).
“Para ustadz harus berteriak di depan umat dari sisi fiqih. Di lapangan, para pemodal bermain mencari peluang strategis,” ujar Saidul Amin yang juga Direktur Eksikutif Komite Daerah Ekonomi Keuangan Syariah Propinsi Riau.
Dijelaskan, banyak peluang ekonomi yang pasarnya umat Islam, tetapi diambil negara lain. Seperti Vietnam berhasil mengirim ribuan ton ikan patin dan Thailand mengirim ratusan ton bumbu rendang ke Mekah setiap musim haji. Padahal, Sumatera punya banyak ikan patin dan rendang.
Pasar umat Islam itu itu tak mampu diraih karena dukungan pemerintah belum maksimal dan belum mampu memanfaatkan teknologi. Misalnya, Malaysia berhasil membuat kemasan atau packing untuk 6 bulan, China satu tahun. Sedangkan Indonesia hanya untuk masa waktu tiga hari.
“Mesjid harus dijadikan sebagai pusat perekonomian. Tapi, mental umat harus diperbaiki dan para ustadz harus memberi penecerahan mengajak umat berjihad ekonomi. Antara lain belanja kepada pengusaha umat Islam yang keuntungannya dikembalikan kepada kepentingana umat,” ujarnya.
Namun demikian, usaha umat Islam juga harus mengutamakan kualitas agar mampu bersaing. Demikian juga soal harga. Sementara, untuk mengembangkan ekonomi umat, sumber dananya dapat memanfaatkan zakat, infaq, sadaqah maupun wakaf.
Dijelaskan, Cokroaminito dalam bukunya mengatakan, sebaiknya umat membangun pabrik dari pada membangun masjid. Karena, pabrik dapat menghasilkan produk halal dan menyerap tenaga kerja. Sedangkan masjid sudah banyak ditemukan di mana-mana.
“Bagi saya, ini sebuah pemikiran yang startegis untuk membangun perekonomian umat. Untuk itu, mari kita bersatu untuk saling mendukung,” ujar Saidul Amin yang lahir dan besar di Kota Siantar.
Sebelumnya, Drs H Armaya Siregar sebagai ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MI Kota Siantar melaporkan, perekonomian umat Islam Kota Siantar memprihatinkan. Yang menabung di Bank Syariah hanya sekitar 7 persen. Bahkan, ada sekitar 75 persen umat terjerat rentenir.
Sementara, umat Islam masih minim mengunjungi usaha umat Islam dengan sistim Syariah seperti Koperasi Rezeki Halal Barokah di Jalan Kartini, Kota Siantar. Menjual berbagai kebutuhan pokok seperti mini market.
“Resolusi jihad ekonomi harus disahuti untuk membangkitkan perekonomian Islam, Saatnya kita belanja di usaha-usaha umat. Karena, keuntungannya disisihkan dikembalikanj untuk kepentingan umat. Antara lain menyantuni anak yatim. Sehingga, kita juga mendapat pahala,” ujar H Armaya.
Selanjutnya, praktisi ekonomi, M Haris sebagai nara sumber dengan materi pemberdayaan ekonomi umat mengatakan, untuk membangun perekonomian umat harus memiliki perencanaan strategis dalam meraih peluang pasar.
M Haris yang berhasil membangun delapan ritel perlengkapan bayi di Kota Siantar, Medan dan beberapa kota di Aceh itu mengatakan, membangun perekomian umat jelas butuh kerja keras. Dan dukungan umat Islam sebagai konsumen.
“Pengusaha umat Islam butuh support dari umat Islam itu sendiri, Mari bersatu dan hilangkan iri serta dengki di antara sesama agar kita bisa sama-sama bangkit,” ujarnya sembari mengatakan bahwa uang adalah energi yang dapat dipergunakan untuk kemashalatan umat.
Ketua MUI Kota Siantar, H M Ali Lubis yang membuka dan menutup soslisasi Ekonomi Syariah tersebut, berharap kepada para peserta sebanyak 50 orang, terdiri dari alim ulama, pelaku ekonomi tersebut , dapat menyerap ilmu dari nara sumber yang sangat kredibel.
Sosialisiasi dengan pengarah acara Syafaruddin Sagala, moderator Hamzah Purba itu, dihadiri sejumlah pengurus MUI Kota Siantar seperti Wakil Ketua Zainal Siahaan, Bendara H Badri Kalimantan, Wakil Sekretaris M Rasyid dan ketua-ketua Komisi MUI Kota Siantar. (In)







Discussion about this post