P.Siantar, Aloling Simalungun
Gencarnya upaya pengambialihan (okupasi) lahan HGU PTPN 3 di Kelurahan Bah Sorma dan Gurilla, Kecamatan Siantar Sitalasasi Kota Siantar, membuat perlawanan warga penggarap dari Forum Tani Sejahtera Indonesia (Futasi) mulai kendor?
Kendornya perlawanan Futasi diketahui karena tak segencar hari pertama saat PTPN 3 melakukan okupasi, Selasa (18/10/2022). Berani menerobos barisan pengaman dari Satpam PTPN 3 dan personel Polri serta TNI. Nekad menghalang alat berat PTPN 3 yang membersihkan tanaman palawija dan taman keras lainnya di tanah garapan.
Kemudian, disebut-sebut juga karena semakin banyak yang mendaftar untuk menerima sugu hati atau uang pengganti bangunan dan tanaman. Selanjutnya, siap meninggalkan lahan garapan yang sudah dikuasai selama 18 tahun itu.
Menurut pihak PTPN 3, warga Futasi yang sudah menerima sugu hati dan meninggalkan lahan garapan tahun 2021, sebanyak 17 orang. Kemudian, sampai, Sabtu (22/10/2022), jumlahnya terus bertambah menjadi 109 kepala keluarga. Sedangkan menurut versi Futasi ada 250 kepala keluarga sebagai penggarap.
“Ya, jumlah warga Futasi yang mendaftar untuk menerima sugu hati terus bertambah sampai 109 kepala keluarga. Sedangkan yang sudah menerima uang pindah Rp 5 juta masih tiga kepala keluarga,” Asisten Personalia Kebun Bangun yang juga Humas PTPN 3, Donni Manurung, Minggu (23/10/2022).
Rp 5 juta itu dikatakan berbentuk uang sewa rumah agar penggarap memiliki uang untuk segera pindah. Sedangkan uang sugu hati berupa pengganti bangunan dan tanaman, diserahkan besok, Selasa (25/10/2022). Selanjutnya. Rabu, (26/10/2022) akan diinformasikan secara terbuka tentang batas waktu pendaftaran tentang sugu hati.
Diinformasikan, sampai Sabtu (22/10/2022), bibit sawit yang sudah ditanam sebanyak 1.823 batang di atas lahan 12,74 hektar. Sehingga, total yang sudah ditanam sebanyak 8.278 batang di lahan 57,88 hektar dari 66,06 hektar lahan HGU PTPN 3 di Kelurahan Bah Sorma dan Gurilla.
Dijelaskan juga, alat berat yang berada di lokasi penyelamatan asset negara seperti 8 unit eskapator, satu di antaranya rusak dan 5 dozer juga satu di antaranya rusak. Sedangkan 4 holdiger tidak ada yang rusak.
“Kalau hari Minggu ini, kita tidak ada melakukan kegiatan tapi, Senin (24/10/2022) upaya okupasi dengan melakukan pembersihan tanaman penggarap akan dibersihkan lagi dan dilakukan juga penanaman bibit sawit,” ujar Donni.
Pada kesempatan sebelumnya, Jonar Sihombing sebagai Ketua Futas imengatakan, lahan yang mereka duduki di Kelurahan Bah Sorma dan Gurilla merupakan lahan eks HGU PTPN 3. Karena itu, mereka berani mengusahainya menjadi lahan pertanian.
Namun, terkait upaya perlawanan yang mereka lakukan menghalang alat berat yang membersihkan tanaman di areal tanah garapan, memang tidak segencar pada hari pertama dan kedua okpuasi, Selasa (18/10/2022) dan Rabu (19/10/2022).
“Alat berat sudah menghabiskan tanaman kita. Kalau melawan, ya kita tetap melawan. Tapi tak ada artinya juga. Kalau tidak ada Polisi yang berpihak kepada PTPN 3, masih lumayan. Karena itu, ada yang berhenti sebagian karena memang tidak seimbang. Gimanalah, tapi kita tetap melawan,” ujar Jonar Sihombing melalui telepon seluler.
PERLAWAN FUTASI
Sebelumnya, seorang ibu rumah tangga, Juli ditemani warga lainnya mengaku kuburan anaknya berusia 5 tahun diratakan alat berat. Hal itu disampaikan saat mendatangi pihak PTPN 3 yang juga dihadiri Kapolres Siantar, AKBP Fernando di depan kantor unit Kebun Bangun PTPN 3, Kelurahan Bah Sorma, di sekitar lahan HGU PTPN 3, Rabu (19/10/2022).
Untuk itu, Asisten Personalia Kebun BangunPTPN 3, mengatakan, kegiatan PTPN 3 untuk membersihkan lahan yang ditanami masyarakat di atas lahan HGU PTPN 3. Kalau ada objek yang dikatakan kuburan, itu diluar sepengetahuan operator apalagi tidak ada tanda-tanda tanah wakaf.
“Kalau ibu bilang kuburan, tapi tak ada tanda-tanda. Kalau begitu, kita gali dan kita kita pindahkan. Kami siap melaksanakan adat istiadat, kita menghargai itu,” ujar Doni lagi menawarkan solusi dan pihak PTPN 3 siap melaksanakannya.
Menganggapi pernyataan itu, perdebatan soal kuburan akhirnya reda. Kemudian, warga meminta kepada PTPN 3 menghentikan okupasi yang menurut warga tanpa pemberitahuan dan lahan yang sudah dikelola warga Futasi itu dikatakan eks HGU PTPN 3.
Selanjutnya, karena mengaku tidak ada pejabat Pemko Siantar perduli dengan Futasi, malam harinya, Rabu (19/10//2022), puluhan warga bergelimpangan melakukan aksi tidur di Jalan Merdeka depan kantor Wali Kota Siantar sampai subuh, Kamis (20/10/2022).
Salah seorang warga Futasi, Tiomerli br Sitinjak mengatakan, mereka melakukan aksi damai untuk bisa bertemu Wali Kota. “Kami sedang menangis karena tanaman kami dirusak dan dihancurkan dan kami tak mengerti mengadu kepada siapa. Kami datang supaya pejabat di Siantar mengetahui ada penderitaan yang dialami masyarakatnya,” ujarnya.
Namun, malam itu, Wali Kota yang diminta datang untuk menghentikan okupasi tidak juga datang. “Kami orang miskin. Kami ingin Wali Kota memperhatikan. Pak Jokowi Presiden kami! Dengarkan kami, kami dirampas oleh mavia tanah,” teriak ibu tersebut lagi.
Pagi harinya, Kamis (20/10/2022) setelah kaum ibu memasak air panas dan merebus ubi untuk serapan, aksi berpindah ke trotoar depan pintu gerbang keluar kantor Wali Kota. Jaraknya hanya berjarak beberapa meter dari videotron yang kerap menanyangkan gambar Wali Kota.
Namun, karena pintu gerbang tetap ditutup dan suara memanggil Wali Kota Susanti Dewayani seperti percuma, sekitar jam 08.30 Wib, warga akhirnya bergerak meninggalkan lokasi. Kembali ke tanah garapan yang sudah mereka kelola selama 18 tahun.
Pihak PTPN 3 melalui Doni Manurung mengatakan, pengambilalihan (okupasi) lahan yang dikuasi Futasi merupakan aksi penyelamatan asset negara. Karena PTPN 3 memiliki HGU yang sah dan berakhir 2029. Bahkan, itu sudah diakui Badan Pertanahan Nasional (BPN). (In)







Discussion about this post