P.Siantar, Aloling Simalungun
GMKI Siantar-Simalungun dan STT HKBP P.Siantar menggelar acara Bedah Buku Diutus Melintasi Batas, Biografi Marie Claire Barth Frommel, Selasa (21/4/2026) di aula STT HKBP P.Siantar.
Acara bedah buku diawali sambutan Ketua GMKI Pematang Siantar Simalungun, Yova Ivo Cordiaz Purba, yang menyampaikan acara ini merupakan kolaborasi dari GMKI Pematang Sintar-Simalungun dengan STT HKBP Pematangsiantar sebagai upaya untuk membangun tradisi intelektual dan spiritual di kalangan mahasiswa Kristen.

Kolaborasi antara GMKI PSS dan STT-HKBP Pematangsiantar ini diharapkan menjadi sinergi positif antara organisasi kemahasiswaan dan lembaga pendidikan dalam membangun budaya literasi, dialog kritis, dan penguatan karakter generasi muda ujar Yova.
Selanjutnya Drs.Marim Purba mantan Walikota P.Siantar dan Ketua Umum PP-GMKI memandu acara bedah buku dengan terlebih dahulu memperkenalkan Pembicara Pdt. Dr. Ester Mariani Rihi Ga penulis buku Biografi Marie Claire Barth Frommel, Ketua STT-HKBP Pdt.DR.Sukanto Limbong MTh, Penanggap Sahat Sinurat Ketua Umum DPP-GAMKI dan Penanggap DR.Sarmedi Purba SPOG.
Drs.Marim Purba memandu bedah buku dengan mempersilahkan Pdt.Dr.Ester Mariani Rihi Ga menjelaskan sekilas sosok Marie Claire serta pengabdiannya yang melintas batas.
Pdt.Ester menyebut bahwa Marie Claire pertama kali datang ke Medan tahun 1956, Marie memiliki penilaian istimewa kepada orang Batak yang menuntutnya pintar dan kalau berbicara langsung. Pelayanan Marie Claire yang lintas batas banyak menekankan peran perempuan, hati Allah seperti ibu dia sungguh sungguh berusaha meningkatkan peran perempuan hanya saja peningkatan peran perempuan di Indonesia berbeda dengan yang diperjuangkan di Eropa. Perempuan Indonesia mesti sungguh sungguh menggali budayanya sendiri dalam hal peningkatan peran perempuan.
Marie Claire juga memperjuangkan pada masa itu agar Pengurus Pusat (PP) harus ada perempuan.
Dikatakan Pdt.Ester Mariani, Marie Claire dalam pelayanan dan kehidupannya mengajarkan tentang apa itu Cukup. Selama hidupnya Marie Claire sangat sederhana dan selalu mengatakan orang Kristen haruslah berbagi, semasa hidupnya Marie Claire banyak memberikan beasiswa kepada mahasiswa Indonesia dengan uang sendiri maupun dari donatur.
Dr.Sarmedi Purba SPOG mengatakan Marie Claire adalah pencinta Indonesia, saya pertama kali bertemu dengannya di Mainz Jerman, disitulah kenal dengan Marie Claire.
Marie Claire banyak membantu perawat Indonesia yang bekerja di Jerman melakukan pendamping sehingga bisa beradaptasi di Jerman,bagi saya Marie Claire adalah pahlawan ujar Sarmedi Purba.
Marie Claire berjuang untuk emansipasi perempuan awalnya sedikit perempuan yang bisa jadi pendeta,Marie Claire ikut memperjuangkan agar semakin banyak perempuan yang menjadi pendeta.
Sementara itu Sahat Sinurat mengatakan dirinya pertama kali bertemu dengan Marie Claire tahun 2013. Marie Claire adalah sosok yang sederhana berjuang untuk gerakan oikumene tidak membeda-bedakan suku.
Nilai nilai oikumene sebaiknya dibangun sejak mahasiswa bisa berguna untuk membangun jejaring yang kelak akan berguna ujar Sahat Sinurat.
Pdt.DR.Sukanto Limbong Ketua STT HKBP mengatakan bedah buku adalah momentum untuk belajar dari sosok Marie Claire yang
pengabdian melintasi batas pendidikan iman mampu membawa perubahan memperluas wawasan dan mencerahkan.
Bedah buku bukan sekedar membaca tapi menjadi inspirasi.Tidak mungkin sebuah bangsa bisa maju kalau perempuan tidak maju ujarnya.
Rusdin Sumbayak yang mengikuti acara secara daring dari Jerman mengatakan bahwa dirinya sudah 56 tahun tinggal di Jerman. Pertama kali bertemu Marie Claire tahun 1973 Frankfurt di ibadah berbahasa Indonesia.
Ibadah berbahasa Indonesia di Jerman adalah peran Marie Claire yang berjuang agar ada ibadah berbahasa Indonesia dan itu terwujud hingga saat ini ujarnya.
Tujuh puluh tahun lalu, seorang perempuan muda keturunan Prancis – Swiss melintasi benua pergi ke Indonesia untuk membantu pelayanan GMKI.
Pada akhirnya Marie Claire tidak hanya membantu GMKI, tapi menjadi pengajar teologi di beberapa STT, penulis, motivator dan menjadikan Indonesia tanah air kedua.(tp)






