Aloling Simalungun
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman
Kamis, 22 Oktober 2026
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
No Result
View All Result
Aloling Simalungun
No Result
View All Result
  • SMSI
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
Home Inspirasi

Budidaya Tanaman Jeruk di Simalungun Dominan Disemprot Racun Setiap Minggu Apakah Menyehatkan jika Dikonsumsi ?

Catatan : Tonny Saritua Purba

by Redaksi
16 Oktober 2020 | 15:03 WIB
in Inspirasi
A A
https://asset.barak.id/2026/10/VID-20261020-WA0003.mp4
ADVERTISEMENT
186
SHARES
232
VIEWS

Saya selama 3 hari, sejak tanggal 12-15 Oktober 2020 mengunjungi beberapa petani jeruk di beberapa Desa yang ada di Kabupaten Simalungun, dominan petani jeruk yang ada mengatakan hama dan penyakit tanaman jeruk adalah lalat buah.

Lalat buah merupakan salah satu hama penting pada jeruk, kerugian bagi petani karena larvanya akan menyebabkan gugurnya buah jeruk sebelum mencapai kematangan yang diinginkan. Hal ini sangat merugikan bagi petani karena dapat menghambat peningkatan produksi, kwalitas buah dan potensi gagal panen besar sekali

Untuk mencegah hama ulat buah, dominan petani jeruk akan menyemprotkan Pestisida berupa Fungisida dan Insektisida. Biasanya para petani dalam satu minggu bisa sampai 2 kali penyemprotan agar hama ulat buah tidak ada.

Saya bertanya kepada beberapa orang petani mengapa setiap minggu selalu menyemprotkan racun ? Jawaban dari petani tersebut adalah jika tidak disemprotkan dengan racun maka buah jeruk akan terkena hama dan penyakit, kususnya hama ulat buah.

Setelah petani menjawab, saya jelaskan secara singkat mengapa bisa demikian ? Karena dominan petani sudah menganggap bahwa jika tanaman jeruk tidak disemprot Pestisida maka lalat buah akan ada di dalam buah jeruk, gagal panen bisa terjadi.

Tanaman jeruk sudah ketergantungan Pestisida termasuk wawasan petani juga sudah keliru, saya sebagai salah satu penyuluh swadaya petani padi Indonesia ikut prihatin melihat kondisi petani jeruk yang ada di Kabupaten Simalungun.

Saat saya berkumpul dengan para petani jeruk, saya juga melakukan pemberdayaan, pelatihan dan penyuluhan kepada petani jeruk yang ada di 2 Desa di Kecamatan Purba, Simalungun. Ada beberapa hal yang saya lakukan, seperti :

Pertama, petani harus menyuburkan tanah, potensi kotoran hewan yang ada dikumpulkan, seperti kotoran hewan kambing, domba, kerbau atau sapi bisa diproses menjadi Pupuk Kandang.

Kedua, saya mengadakan pelatihan cara pembuatan Bakteri Dekomposer agar kotoran hewan diproses dan difermentasikan menjadi Pupuk Kandang.

Ketiga, saya jug mengajarkan pelatihan cara pembuatan Pupuk Hayati dari bahan-bahan yang ada di sekitar petani, bisa dimanfaatkan bahan dari bonggol pisang, di dalam bonggol pisang sangat banyak kandungan bakterinya

Keempat, jika penyuburan tanah sudah dilakukan, Pupuk Kandang diberikan ditambahkan Pupuk Hayati/Mikroba maka hama dan penyakit tanaman akan dikendalikan secara ekologis, telur ulat buah yang ada di dalam buah jeruk akan dikendalikan oleh ekosistem mikroba, perlahan populasi ulat buah akan berkurang.

Proses penyuburan tanah harus berlangsung secara konsisten, tentu butuh waktu dan proses sehingga SDM dan keterampian petani perlu dibangun terlebih dahulu, tanpa adanya itu maka petani akan selalu ketergantungan Pestisida, tanah perlahan akan kronis, kehidupan eksosistem mikroba di dalam tanah bisa punah, modal bertani akan semakin mahal sementara harga jual relatif semakin turun.

Komoditi pertanian jika dikonsumsi tentu tidak akan menyehatkan, kesehatan akan terganggu dan kesejahteraan petani juga akan semakin sulit tercapai

Tulisan saya ini sebagai sebuah renungan bersama bukan hanya bagi petani jeruk saja tetapi juga untuk semua petani termasuk kepada Pemerintah juga.

Harapan saya sebagai salah satu Penyuluh Swadaya Petani Padi Indonesia adalah agar SDM petani dibangun kembali, masalah SDM petani adalah tanggung jawab kita bersama, keterampilan petani harus dibangun agar kehidupan petani bisa lebih baik lagi, sejahtera dan masyarakat yang mengkonsumsi hasil komoditi pertanian bisa lebih sehat lagi. (Penulis Penyuluh Swadaya Petani Padi Indonesia)

Tags: jerukpestisidasimalungun
Share74Tweet47SendShare
ADVERTISEMENT

Berita Terkait

Inspirasi

Greenpeace: Krisis Iklim Tekan Daya Beli di Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran 

by Redaksi
20 Oktober 2026 | 12:02 WIB
0

Jakarta, Aloling Simalungun Greenpeace Indonesia menyoroti dampak krisis iklim terhadap daya beli masyarakat selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto...

Read more
Inspirasi

Kabut Asap Mengepung Pematangsiantar Dan Simalungun, GMKI Desak Langkah Nyata Bukan Sekedar Himbauan!

by Redaksi
15 Oktober 2026 | 13:27 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Pematangsiantar-Simalungun mendesak Pemerintah Kota Pematangsiantar dan Pemerintah Kabupaten Simalungun agar segera...

Read more
Inspirasi

Pembangunan Tembok Pagar SMP Negeri 2 Girsang Sipangan Bolon Disambut Positif Warga

by Redaksi
13 Oktober 2026 | 15:43 WIB
0

Simalungun, Aloling Simalungun Pembangunan tembok pagar SMP Negeri 2 Girsang Sipangan Bolon disambut positif warga dinilai bisa semakin meningkatkan kualitas...

Read more
Inspirasi

Fragmen Teaterikal Peristiwa Bandar Betsy Mengheningkan Ribuan Masyarakat di Peringatan Hari Kesaktian Pancasila

by Redaksi
1 Oktober 2026 | 20:57 WIB
0

Simalungun, Aloling Simalungun Peristiwa kelam yang terjadi di Bandar Betsy, Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun pada tahun 1965 terkait Gerakan...

Read more

Discussion about this post

Berita Terbaru

Nasional

 Resmi! Inilah Jadwal Haji 2027: Berangkat Mulai 11 April, Wukuf 15 Mei 2027

21 Oktober 2026 | 10:28 WIB
Siantar - Simalungun

Perkuat Koordinasi dan Kebersamaan, Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Simalungun Gelar Rapat Koordinasi

21 Oktober 2026 | 08:42 WIB
Inspirasi

Greenpeace: Krisis Iklim Tekan Daya Beli di Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran 

20 Oktober 2026 | 12:02 WIB
Siantar - Simalungun

Jaga Kesehatan Masyarakat, Pemkab Simalungun Lakukan Pengujian Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah

20 Oktober 2026 | 08:21 WIB
Entertainment

Rehab Bangunan  SD Negeri 098145 Karang Sari Kecamatan Gunung Maligas Disambut Positif 

19 Oktober 2026 | 15:21 WIB
Siantar - Simalungun

Wali Kota Tebing Tinggi Apresiasi Pemerintah Pusat Atas Revitalisasi Belasan SD dan SMP 

19 Oktober 2026 | 10:44 WIB
Siantar - Simalungun

Bupati Simalungun Resmikan Rumah Peradaban Tahfiz Qur’an Haji Dr. Sugiat Santoso di Peringatan Haul ke-17 Tuan Guru Batak

19 Oktober 2026 | 08:30 WIB
Siantar - Simalungun

Pemkab Simalungun Seriusi Perbaikan Jalan Penghubung Huta Bayu Raja–Bosar Maligas

17 Oktober 2026 | 18:47 WIB
Siantar - Simalungun

Hadiri Pelantikan Pengurus KORMI Simalungun, Bupati Ajak Berkolaborasi Bangun Masyarakat Yang Sehat Secara Utuh

17 Oktober 2026 | 10:28 WIB
Siantar - Simalungun

Dukung Pengembangan PLTS dan BESS, Bupati Simalungun Berharap Dapat Berikan Kontribusi PAD

16 Oktober 2026 | 07:44 WIB
Inspirasi

Kabut Asap Mengepung Pematangsiantar Dan Simalungun, GMKI Desak Langkah Nyata Bukan Sekedar Himbauan!

15 Oktober 2026 | 13:27 WIB
Regional

Wujudkan Lingkungan Kerja Bersinar, Pemko Tebing Tinggi akan Gelar Tes Urin Bagi Seluruh ASN

15 Oktober 2026 | 12:32 WIB
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun