Aloling Simalungun
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman
Kamis, 4 Juni 2026
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
No Result
View All Result
Aloling Simalungun
No Result
View All Result
  • SMSI
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
Home Inspirasi

PT Japfa Turut Bergotongroyong Menekan Stunting dari Kota Sampai Desa

Oleh: Imran Nasution

by Redaksi
6 September 2022 | 01:49 WIB
in Inspirasi
A A
ADVERTISEMENT
20
SHARES
25
VIEWS

Jajaran pulau-pulau dari Barat sampai ke Timur, begitu kaya dengan keberagaman pangan nabati dan hayati. Lantas, mengapa stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi, membuat Indonesia menduduki peringkat ke lima di dunia.?

Pada dasarnya, stunting bukan hanya soal nabati maupun hayati sebagai sumber berbagai protein asupan penambah gizi. Tapi, selain akibat kemiskinan dan rendahnya pendidikan, juga terkait dengan pola asuh yang belum memasuki masalah inti.

Karenanya, penanggulangan kemiskinan dan perbaikan pendidikan untuk menata pola asuh yang baik, menjadi prioritas dilakukan. Ibarat menyembuhkan demam karena bisul. Selain memberi obat demam, pastinya bisul harus dibasmi dengan cara sistimatis.

Lantas, karena kondisi anak Indonesia saat ini merupakan gambaran kualitas sumber daya manusia memajukan bangsa dan negara pada masa mendatang, Presiden Joko Widodo meminta Walikota dan Bupati agar menekan tingkat stunting di bawah 14 persen sampai tahun 2024.

Sebagai pendukung, dicanangkan akselarasi menekan stunting. Pada tingkat pemerintah pusat, melibatkan Kementrian Dalam Negeri dan Kementrian Sosial. Di tingkat propinsi/daerah kabupaten/kota, melibatkan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) sebagai penggerak menyeser stunting di kecamatan sampai desa atau kelurahan.

Bappeda menghimpun data terkait stunting untuk dirumuskan menjadi rencana kegiatan secara berkala. Didukung berbagai perangkat pelaksanaan, target hasil, jadwal pelaksanaan, lokasi dan anggaran. Selanjutnya, dilakukan pelaksanaan rencana kegiatan.

Demikian juga tentang bagaimana pemberdayaan para kader maupun relawan dan perusahaan swasta melakukan pembinaan terhadap masyarakat prasejahtera (miskin) yang berkorelasi dengan Program Keluarga Harapan (PKH). Sehingga, memiliki akses memanfaatkan pelayanan kesehatan, pendidikan, perawatan, gizi dan program perlindungan sosial.

Hanya saja, soal data PKH apakah sudah tepat sasaran? Sementara, kriteria terhadap KPM, jelas bersentuhan langsung dengan antisipasi stunting yang dimulai dari saat ibu hamil sampai melahirkan. Sampai anak berusia 5-7 tahun yang belum masuk pendidikan SD sampai 15 dapat menyelesaikan pendidikan dasar sembilan tahun.

Terkait dengan itu, dibutuhkan sistem manajemen data terbaru yang memadai, rinci, tepat dan mutakhir dalam proses pengambilan keputusan. Baik dalam rangka evaluasi ketersediaan dan kualitas data prevalensi stunting dan data cakupan intervensi gizi spesifik dan sensitif sampai tingkat paling rendah di desa atau kelurahan.

Kemudian, agar tidak sekedar “latah” mengikuti kebijakan Presiden, pencapaian kemajuan yang diperoleh harus terukur. Sehingga, diketahui sejauh mana pencapaian yang diperoleh setiap triwulan dan semester. Kalau pencapaian belum maksimal, tentu dapat diketahui kelemahannya setelah dilakukan evaluasi.

GOTONG ROYONG & PT JAFPA

Untuk menekan tingkat stunting di bawah 14 persen sebagai tujuan yang ditekankan Presiden, tentu lebih mudah dilakukan dengan cara bergotongroyong. Selain pemerintah, perusahaan swasta, akademika dan pers, wajib bersinergis sesuai perannya masing-masing.

Seperti dilakukan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA), perusahaan agribisnis penyedia protein hewani yang berkualitas dan terjangkau yang menyebar di berbagai daerah Indonesia dengan visi visi Perusahaan untuk “Berkembang Menuju Kesejahteraan Bersama”.

Beberapa program yang dilakukan dan telah diekspos berbagai massa, mampu menyalurkan bantuan kepada masyarakat. Baik yang berbentuk CSR maupun bantuan sosial secara spontan. Termasuk di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Bahkan, saat pandemi Covid-19 pada dua tahun terakhir, JAPFA salurkan bantuan makanan berprotein hewani bergizi berupa daging ayam dan telur kepada masyarakat. Ternyata, upaya tersebut bukan saja untuk meningkatkan imun pada tubuh dalam rangka memutus rantai penyebaran Covid-19. Lebih dari itu, sekaligus mendukung penambahan gizi untuk menekan tingkat stunting. Sehingga, berlaku seperti pribahasa, “Sekali kayuh, dua tiga pulau terlampau,”.

Upaya lain yang juga perlu digaris bawahi, JAFPA juga memiliki APFA for Kids. Suatu program unggulan yang berdedikasi untuk kesejahteraan anak-anak di pedesaan mulai usia 6 sampai12 tahun yang telah berlangsung sejak tahun 2008.

Selain kampanye kesehatan dan program pendampingan yang diadaptasi secara lokal pada tingkat sekolah dasar yang meliputi di 21 propinsi, termasuk di Sumatera Utara, anak-anak dilatih memperhatikan kesehatan gizi serta kebersihan sehari-hari.

Tujuannya untuk mewujudkan program sosial berkelanjutan yang difokuskan pada edukasi gizi seimbang. Menuju suatu kemandirian kesehatan dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Terutama di masyarakat dengan keterbatasan akses kesehatan.

PENUTUP
Upaya PT JAFPA sangat bersinergis dengan akselerasi yang dicanangkan pemerintah untuk menekan tingkat stunting. Sehingga, diharap dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain agar turut bergotong royong menekan tingkat stunting di bawah 14 persen sampai 2024 seperti pernyataan Presiden RI, Joko Widodo. (Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis tentang stunting yang digelar PT JAPFA)

Tags: gotongroyongjapfastunting
Share8Tweet5SendShare
ADVERTISEMENT

Berita Terkait

Inspirasi

HPSI Gelar Sosialisasi Partuturan dan Pakaian Adat Simalungun kepada Siswa SMA GKPS Pamatang Raya Simalungun, Aloling Simalungun Harungguan Purba Simalungun Indonesia (HPSI) merasa terpanggil dan bertanggung jawab dalam mensosialisakan adat dan budaya simalungun kepada generasi penerus bangsa yang merupakan garda terdepan dalam melestarikan adat dan budaya. Bertempat di Gedung Aula SMA GKPS Pamatang Raya pada hari Jumat, 8 Mei 2026 acara tersebut dibuka langsung oleh Ketua Umum HPSI bapak Mangapul Purba, S.E,M.I.Kom yang juga ketua fraksi PDIP DPRD Sumatera Utara telah berlangsung dengan baik.Dalam sambutannya beliau menyatakan bahwa peradaban bangsa Indonesia tidak terlepas dari Kebudayaan Daerah, kebudayaan menjadi salah satu factor utama dalam pembangunan nasional Peserta sosialisasi terdiri dari Siswa dan Guru SMA GKPS Pematang Raya dibawah kepemimpinan Kepala Sekolah, Julven Purba, S.Pd, dalam sambutannya beliau sangat berterimakasih atas kegiatan ini sehingga dengan kegiatan ini kami semakin memahami bagaimana adat budaya Simalungun itu dilaksanakan pada kehidupan sehari-hari khusunya tentang partuturan Adat Budaya Simalungun yang setiap hari baik dilingkungan keluarga, lingkungan sekolah selalu diterapkan, tata karma bagi kami terkhusus siswa dapat diterapkan sebagaimana lazimnya pada budaya simalungun, demikin juga tentang pemakaian adat dan budaya Simalungun. Diawal acara dilaksanakan acara pangalo-aloan kepada Rombongan HPSI dengan tortor Simalungun yang ditampilkan oleh Siswa SMA GKPS, dilanjutkan dengan ibadah, kemudian acara nasional menyanyikan lagu Indonesia Raya dan acara Sosilasisasi. Rohdian Purba, S,Si,M.Si selaku Sekretaris DPP HPSI yang juga menjadi narasumber dengan Materi Partuturan Adat Budaya Simalungun menjelaskan bahwa pada saat sekarang ini anak-anak milenial sudah banyak tidak memahami tentang partuturan dalam adat budaya simalungun, sekarang ini akibat ketidak pahaman mereka maka banyhak bersalahan pada panggilan terhadap sesama, orangtua dan kerabat keluarga lainnya, bilama mana tidak kita tanamkan, sosialisasikan partuturan simalungun dimaksud dikwatirkan 10 sampai 20 tahun kedepan maka akan tergerus bahkan hilang sehingga berakibatkan hubungan kekerabatan yang baik selama ini akan menjadi masalah yang sangat besar, mengapa misalnya panggilan makela dalam adat simalungun saat ini sudah sering didengar oleh anak nak bukan lagi makela tapi sudah dipanggil kel, panggilang tulang sudah sering kita dengar disapa oleh anak-anak menjadi tul, ini sangat menyalaha, mengapa terjadi hal demikian karena anak-anak tidak memahami sebenarnya bagiamana peran serta Sananina, Tondong dan Boru dalam peradaban adat dan Budaya Simalungun. Bahkan dalam pergaulan sehari hari antara anak-anak kuda yang berajnak dewasa bisa mengkwatirkan dalam menuju jenjang perkawinan dimasa-masa berpacaran, karena dalam adat budaya simalungun walaupun marga berbeda tidak serta merta bisa menikah/kawan misalnya; borunya namboru kita (anak perempuan dari saudara perempuan bapak) itu tidak bisa kita nikahi. Tapi borunya (anak perempuan) dari tulang kita itu bisa dinikahi yang disebut marboru tulang, atau disebut pariban. Demikian jika ibu kita memilki saudara kandung perempuan dan memilki anak perempuan (boru), kita sebagai laki-laki juga tidak bisa menikahinya, hal-hal yang seperti ini juga perlu kita ajarkan kepada generasi milenial sekarang ,apalagi mereka setelah tammat dari Sekolah akan banyak pergi merantau jauh dari orang tua, dengan tidak memahami hal dimaksud diperantauan bisa berakibat tidak baik dalam peradaban budaya simalungun nantinya, dan banyak hal lagi akibatnya jika partururan dalam budaya Simalungun tidak mereka pahami, hal ini yang perlu sejak dini kita samapaikan buat anak-anak. Demikian juga tentang pakaian adat budaya simalungun yang disamapaikan bapak Djapaten Purba, BME bahwa sejak dini perlu ditanamkan kepada anak-anak milenial, karena pada saat ini sudah banyak kita lihat ditengah-tengah masyarakat dalam acara adat budaya simalungun baik suka maupu n duka sudah tidak sesuai lagi dengan sebenarnya, menurut beliau semua pemakaian hiou simalungun itu memiliki arti dan makna khsusus bagi kehidupan sehar-hari, baik itu gotong, bulang suri-suri, ragi cantik dll termasuk tata cara pemakaiannya misalnya jika seorang bapak memakai suri-suri itu berwarna hitam namu jika perempuan memakai suri-suri bisa warna bebas, demikain juga jika sudah memakai gotong, maka wajib memakai suri-suri dan abit/ragi panei atau ragi cantik untuk laki-laki demikian juga perempuan/ inang jika sudah memakai bulang, wajib memakai suri-suri dan abit. Diakhir acara siswa dan guru SMA GKPS Pamatang Raya sangat mengapresiasi kegiatan sosialisasi ini karena mereka lebih memahami tentang adat budaya simalungun yang bisa mereka terapkan pada kehidupan sehar-hari baik dilingkungan sekolah, keluarga dan kekerabatan dalam lingkungan keluarga mereka, yang diakhiri dengan pemberian cendramata oleh kepala sekolah kepada Ketua Umum HPSI dan kedua narasumber. (rel)

by Redaksi
9 Mei 2026 | 14:54 WIB
0

Simalungun, Aloling Simalungun Harungguan Purba Simalungun Indonesia (HPSI) merasa terpanggil dan bertanggung jawab dalam mensosialisakan adat dan budaya simalungun kepada...

Read more
Inspirasi

Rohdian Purba : “Kemajuan USI Melekat Keinginan Hati untuk Memajukannya”

by Redaksi
8 Mei 2026 | 16:37 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Terkait untuk memajukan Yayasan Universitas Simalungun diutamakan adanya keinginan hati untuk bekerja maksimal dalam memajukan sekolah dan...

Read more
Inspirasi

Hari Pendidikan Nasional 2026 di SMA Negeri 1 Pematangsiantar,  August Sinaga Tekankan Peningkatan Kualitas Di Dalam Kelas

by Redaksi
2 Mei 2026 | 10:47 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Provinsi Sumatera Utara (Siantar-Simalungun) Hardiknas tidak hanya sekadar ajang seremonial, tetapi...

Read more
Inspirasi

Bedah Buku Diutus Melintasi Batas, Biografi Marie Claire Barth Frommel

by Redaksi
22 April 2026 | 08:45 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun GMKI Siantar-Simalungun dan STT HKBP P.Siantar menggelar acara Bedah Buku Diutus Melintasi Batas, Biografi Marie Claire Barth...

Read more

Discussion about this post

Berita Terbaru

Siantar - Simalungun

Pangulu Bandar Betsy Gerak Cepat Selesaikan Polemik Penyaluran BLT

4 Juni 2026 | 10:20 WIB
Regional

Tekan Resiko Kecelakaan Perlintasan Sebidang Kereta Api, Pemko Tebing Tinggi Siapkan Langkah Konkret

3 Juni 2026 | 17:55 WIB
Nasional

ABPEDNAS Cetak Sejarah, Raih 100 Ribu Anggota Bertepatan Hari Lahir Pancasila 2026

2 Juni 2026 | 19:24 WIB
Entertainment

Parsadaan Purba Pakpak Boru Panogolan (P3BP) Gelar Rakernas di Siantar  

1 Juni 2026 | 20:17 WIB
Siantar - Simalungun

ASN Pemkab Simalungun Melaksanakan Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026: Refleksi Memastikan Pancasila Tetap Menyala

1 Juni 2026 | 20:09 WIB
Entertainment

Erik Tarigan : Anak Siantar Abetnego Tarigan Sangat Perduli dengan Siantar – Simalungun 

1 Juni 2026 | 10:35 WIB
Regional

Pemko Tebing Tinggi Raih Opini WTP Delapan Kali Berturut-Turut, Walikota: Jadikan Motivasi Pembangunan Kota yang Lebih Baik 

29 Mei 2026 | 18:50 WIB
Entertainment

Anak Siantar David Sotar Karter Pardosi Pengusaha Muda  yang Merambah Hingga ke Luar Pulau Sumatera 

28 Mei 2026 | 18:57 WIB
Siantar - Simalungun

Penyembelihan Hewan Qurban Warga Lingkungan III Kelurahan Simarito Berjalan Lancar

28 Mei 2026 | 09:28 WIB
Entertainment

Pengurus Lokal Badan Kerjasama PGI-GMKI Pematang Siantar-Simalungun Periode 2026-2031 Resmi Dilantik

25 Mei 2026 | 20:53 WIB
Siantar - Simalungun

Terima Kunjungan Pemkab Aceh Utara, Pemkab Simalungun Bantu Penanganan Bencana

25 Mei 2026 | 17:37 WIB
Regional

Perkuat Pelayanan Publik Berbasis Digital, Pemko Tebing Tinggi dan Pemko Tanjung Balai Jalin Kerjasama Strategis

22 Mei 2026 | 20:06 WIB
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun