Yogyakarta, Aloling Simalungun
Pemerintah mempercepat langkah riset dan inovasi di bidang transisi energi menyusul semakin nyata dan mendesaknya ancaman kenaikan suhu global yang mendekati ambang batas 1,5 derajat Celsius.
Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Yos Sunitiyoso menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi isu masa depan, melainkan kondisi yang sudah terjadi saat ini.
Riset DBS Rekomendasikan 3 Strategi Bagi Keberlanjutan Bisnis di Indonesia
“Dan mungkin kita akan menembus yang 1,5 derajat Celcius, kalau semuanya masih berjalan seperti biasa,” kata Yos kepada awak media di Yogyakarta, Rabu (19/11).
Ia menekankan pentingnya riset yang mampu memberikan solusi konkret untuk memecahkan persoalan iklim dan membantu masyarakat beradaptasi.
“Kita membutuhkan riset yang bisa membantu kita memecahkan masalah, mengantisipasi dampak-dampak perubahan iklim, dan juga tentunya perubahan iklim harus kita melakukan transisi energi,” katanya.
Tahun ini, pemerintah mulai menjalankan 12 proyek riset baru yang difokuskan pada transisi energi berkeadilan atau just energy transition.
Proyek-proyek tersebut merupakan hasil seleksi kompetisi kerja sama riset antara Indonesia dan Australia, yang sebelumnya juga mencakup penelitian terkait kendaraan listrik (EV) serta teknologi energi bersih lainnya.
Ia menjelaskan bahwa skema kerja sama ini menggunakan topik-topik yang menjadi prioritas bersama kedua negara, mulai dari energi bersih, perubahan iklim, hingga inovasi untuk sektor industri dan pemerintah daerah. (Kontan)






