Aloling Simalungun
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman
Kamis, 4 Juni 2026
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
No Result
View All Result
Aloling Simalungun
No Result
View All Result
  • SMSI
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
Home Inspirasi

Soal Pengelolaan Tanah Eks TPL di Simalungun DPP-PACS Surati Presiden RI Prabowo Subianto, Kembali Tegaskan Tidak Ada Tanah Adat di Simalungun 

by Redaksi
13 April 2026 | 09:46 WIB
in Inspirasi
A A
ADVERTISEMENT
108
SHARES
135
VIEWS

P.Siantar, Aloling Simalungun

Soal pengelolaan tanah eks TPL yang berada di kawasan Simalungun Dewan Pimpinan Pusat/Presidium Pemangku Adat dan Cendekiawan Simalungun (DPP-PACS ) yang disebut dalam bahasa Simalungun Partuha Maujana Simalungun menyurati Presiden RI Prabowo Subianto, Ketua DPR-RI, Ketua Komisi IV DPR-RI,Menteri Kehutanan Republik Indonesia,Direktorat Penegakan Hukum Kementrian Kehutanan RI,Satgas PKH RI,Chief Executive Officer Danantara RI,Gubernur Sumatera Utara,Bupati Kabupaten Simalungun danDPRD Kabupaten Simalungun. Surat tersebut bernomor : 75.I /DPP.PACS-PMS/U/IV/2026 tertanggal 10 April 2026 ditandatangani Ketua Umum DPP-PACS DR.Sarmedi.Purba SPOG.

Demikian dikatakan DR Sarmedi Purba SPOG didampingi Sekretaris Rohdian Purba dan Wakil Ketua Djapaten Poerba BME kepada Aloling Simalungun Senin (13/4/2026).

DR.Sarmedi Purba SPOG mengatakan dalam surat tersebut ditegaskan bahwa sebagai organisasi Pemangku Adat dan Cendekiawan Simalungun DPP-PACS berkewajiban untuk melestarikan adat dan budaya suku simalungun sebagaimana warisan dari leluhur suku Simalungun baik itu adat istiadat maupun tatanan kehidupan masyarakat simalungun yang menjadi jati diri suku Simalungun.

Dijelaskannya bahwa sesuai dengan SK Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor  87 Tahun 2026 tanggal 26 Januari 2026 tentang pencabutan Perizinan Berusaha pemanfaatan Hutan atas nama PT Toba  Pulp Lestari Provinsi Sumatera Utara seluas 167.912 Ha dengan wilayahnya sebahagian berada di wilayah Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara, dan pada Plang yang telah dibuat oleh Kementrian kehutanan di wilayah Aek Nauli dengan isi : Areal Konsesi PBPH PT Toba Pulp Lestari Seluas 167.912 Ha, Sesuai dengan SK Mentri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2026 Tanggal 26 Januari 2026 Dicabut selanjutnya Kawasan Hutan ini dikuasai oleh Negara  CQ Kementrian Kehutanan tentang Pencabutan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan  atas nama PT Toba Pulp Lestari Provinsi Sumatera Utara Dilarang Menduduki,Mengerjakan dan Menguasai Tanpa Izin Kementrian Kehutanan.

Maka dengan ini Dewan Pimpinan Pusat/Presidium Pemangku Adat dan Cendekiawan Simalungun menjelaskan Bahwa Sejarah Simalungun dipimpin dan dikuasia oleh Kerajaan yang  di awali dengan fase kerajaan Nagur (marga Damanik) dan selanjutnya menjadi  fase kerajaan ber-empat (harajaon maropat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Kerajaan Panei (marga Purba Dasuha), Kerajaan Silau (marga Purba Tambak) dan Kerajaan Tanoh Jawa  (marga  Sinaga).

Terakhir  menjadi  fase  kerajaan  tujuh (harajaon marpitu)  yakni:  kerajaan  Siantar (Marga  Damanik),  Kerajaan  Panei (marga Purba Dasuha), Kerajaan Silau (marga Purba Tambak), Kerajaan Tanoh Jawa (marga Sinaga), Kerajaan Raya (marga Saragih Garingging), Kerajaan Purba (marga Purba Pakpak) dan Kerajaan Silimahuta (marga  Girsang).

Bahwa yang menguasai dan memiliki seluruh tanah di wilayah Simalungun pada masa kerajaan Simalungun adalah Raja berdasarkan wilayah masing-masing, yang dikuasai  dikekola oleh keluarga Raja dan juga diberikan kepada rakyatnya untuk dikekola demi kesejahteraan rakyat yang di pimpinnya.

Pada masa kerajaan Simalungun Desa Sihaporas Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara adalah merupakan wilayah Kerajaan Siantar (Marga Damanik).

Bahwa akhir-akhir ini dan sampai saat ini kami suku simalungun merasa terganggu dengan adanya pernyataan sekelompok masyarakat yang berada di Desa Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara yang menyatakan adanya Tanah Adat Komunitas Lembaga Adat Keturunan Pomparan Ompu Manontang Laut Ambarita  Sihaporas (LAMTORAS)  di  wilayah  Desa  Sihaporas Kecamatan Pematang Sidamanik Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara.

Dijelaskan DPP-PACS sejarah adanya marga Ambarita di wilayah Nagori Sihaporas  Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara,adalah berasal dari Samosir, dimana Ompu Manontang Laut Ambarita  datang dari Samosir  ke wilayah Sihaporas –Sipolha Kabupaten Simalungun, dan oleh opung Parmata Manunggal Damanik yang merupakan Tuan Sipolha (merupakan wilayah Kerajaan Siantar marga Damanik),  memberikan perkampungan dan perladangan kepada ompu Pamontang Laut Ambarita untuk menjadi pemukiman/perkampungan dan mengelola sebagai tempat pertanian, bukan menjadi tanah adat /tanah ulayat dari marga Ambarita.

Bahwa  berdasarkan sejarah Simalungun  dengan tegas kami menyatakan tidak ada Tanah Adat Komunitas Lembaga Adat Keturunan Pomparan Ompu Manontang Laut Ambarita  Sihaporas (LAMTORAS)  Desa Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara dan wilayah manapun di Kabupaten Simalungun, karena marga Ambarita bukanlah merupakan keturunan dari salah satu kerajaan yang pernah memimpin di wilayah Simalungun.

Bahwa pada masa kerajaan Simalungun Desa Dolok Parmonangan yang disebut dengan nama “PERMENANGAN”  Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara adalah merupakan wilayah Kerajaan Tanah Jawa  (Marga Sinaga).

Bahwa berdasarkan Register No. 46 Acte Van Concessie Permanangan (yang sekarang disebut dengan nama Parmonangan) tentang pemakaian tanah /sewa menyewa tanah  wilayah harajaon Tanah Jawa marga sinaga antara Pemerintah Belanda oleh pengusaha N.V Nederlandsch Indsich Land Syndicat Nederland Handel Maattschhappij N.W tanggal 12 Agustus 1912 sampai dengan tahun 1918, jelas menyatakan bahwa wilayah Parmonangan adalah merupakan bukti bahwa tanah tersebut dulunya adalah milik dari harajaon tanah jawa, bukanlah milik pihak lainnya termasuk marga Siallgan.

Kerajaan Tanah Jawa telah terbentuk sejak tahun 1225 Raja I Raja Tanoh Jawa yaitu  SORGAMAULI DJAOHARI (1225 M-1300M) dan SANG MUHA RAJA SRI NAGA (1395 M- 1300 M), dimana pada masa kerajaan Nagur tahun di sekitar abad ke-5 atau tahun 400 Masehi, leluhur Raja Tanah Jawa Sinaga sudah merupakan unsur penasehat dari Raja Nagur.

Bahwa sejarah adanya marga Siallagan di wilayah Nagori Dolok Parmonangan yang dulunya di sebut nama “PERMANANGAN” sekarang merupakan wilayah Kecamatan Dolok Panribuan Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara, berada diwilayah Dolok Parmanongan Kabupaten Simalungun adalah sekitar tahun 1700 an, mereka datang dari Samosir  ke wilayah Dolok Parmonangan  Kabupaten Simalungun, jelas bahwa sebelum keturunan  Siallagan datang ke wilayah Kabupaten Simalungun di Desa Parmonangan yang dulu disebut “PERMANANGAN” adalh merupakan  wilayah kerajaan Tanoh Jawa (Marga Sinaga). Jauh sebelumnya kerajaan Tanoh Jawa telah menguasi wilayah Dolok Parmonangan tahun 1225.

Bahwa  berdasarkan sejarah Simalungun  dengan tegas kami menyatakan tidak ada Tanah Adat Keturunan Siallagan di Desa Parmonangan, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara dan wilayah manapun di Kabupaten Simalungun, karena marga Siallagan  bukanlah merupakan keturunan dari salah satu kerajaan yang pernah memimpin di wilayah Simalungun,

Bahwa akhir-akhir ini dan sampai saat ini kami suku simalungun merasa terganggu dengan adanya pernyataan sekelompok masyarakat yang berada di Desa Dolok Parmonagan Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara yang menyatakan adanya Tanah Adat  Keturunan Siallgan di  wilayah  Desa  Parmonangan Kecamatan Dolok Panribuan  Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara.

Bahwa wilayah Kabupaten Simalungun tidak boleh diklaim masyarakat pendatang sebagai tanah adatnya, sebab hal itu adalah indikasi kuat pemalsuan hak, atau indikasi kuat klaim palsu yang tidak dapat dibenarkan.

Bahwa Dewan Pimpinan Pusat/Presidium Pemangku Adat dan Cendekiawan Simalungun menyatakan “Tidak Ada Tanah Adat di Wilayah Kabupaten Simalungun”  dengan alasan:

Karena dari zaman kerajaan tidak ada masyarakat adat di Simalungun  (contoh masyarakat adat: suku Badui di Jawa Barat, suku anak dalam di Jambi).

Sampai sekarang belum ada dasar hukum pengesahan tanah adat di Kabupaten Simalungun seperti UU Masyarakat Adat belum disahkan DPR, tidak ada Perda Tanah Adat di Kabupaten Simalungun.

Tuntutan suku pendatang dari tetangga tentang menyatakan adanya Tanah Adat di Simalungun adalah pelanggaran hak azasi manusia Simalungun secara kelompok dan perseorangan. Mengapa? Karena harkat dan martabat manusia Simalungun diperkosa dengan pernyataan bahwa ribuan hektar tanah Simalungun adalah “tanah adat” suku marga laian diluar Simalungun.

Pernyataan hukum melalui DPP Pemangku Adat dan Cendekiawan Simalungun (PACS) telah dilakukan sebagai saksi ahli oleh Ketua Umum DPP PACS  Dr.Med Sarmedi Purba, Sp.OG di Pengadilan Negri Simalungun bahwa tidak ada Masyarakat Adat di Simalungun. Kemudian pernyataan kesepakatan DPP PACS dengan Dirjen Kehutanan Kementerian LHK tgl 8 September 2024 di Kantor Kementrian LHK di Jakarta.

Permen Agraria zaman Belanda UU Agraria tahun 1870 menyatakan bahwa tanah ex kerajaan otonomi (zelfbestuur) pada zaman Belanda tidak boleh dijadikan tanah adat

Tidak pernah ditunjukkan kepada umum tanda bukti hukum hak tanah adat yang di  klaim oleh masyarakat yang menamakan dirinya Lamtoras marga Ambarita di wilayah Nagori Sihaporas  Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara, demikian juga yang menamakan dirinya Tanah Adat Keturunan Siallagan di Desa Parmonangan, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara

Bahwa sesuai dengan Surat Kementrian LHK Nomor. S.211/PKTHA/PHAHH/PSL.7.2/09/2023 tanggal 08 September 2023 hal Penegasan Tanah ulayat/tanah adat simalungun dan masyarakat hukum adat sampai saat ini belum ada pengakuan tentang Tanah ulayat/tanah adat simalungun dan masyarakat hukum adat di Simalungun.

Berkenaan dengan hal dimaksud diatas maka dengan ini kami Dewan Pimpinan Pusat/Presidium Pemangku Adat dan Cendekiawan Simalungun meminta sbb:

Meminta kepada Presiden Republik Indonesia dan Kementrian Kehutanan RI Cq.Direktur Penangan Konflik Tenurial dan Hutan  Adat (PKTHA) untuk tetap konsisten terhadap Surat Nomor: 2.581/PSKL/PKYHA/PSL.1/3/2023 tanggal 14 Maret 2023 perihal surat terbuka kepada Masyarakat Adat Sihaporas.

Meminta kepada Presiden Republik Indonesia dan Kementerian Kehutanan RI Cq.Direktur Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan  Adat (PKTHA) dan untuk tetap konsisten terhadap Surat Nomor: S.211/PKTHA/PHAHH/PSL.7.2/09/2023 TANGGAL 08 September 2023 perihal penegasan Tanah Ulayat /tanah adat Simalungun  dan masyarakat Hukum Adat .

Meminta kepada Presiden agar pihak Kementrian Kehutanan RI  Cq.Direktur (PKTHA) Kementrian Lingkungan Hidup  dan Kehutanan  untuk tidak mengeluarkan Surat Keputusan tentang adanya Tanah Adat/Tanah Ulayat dari Keturunan Ompu Manontang Laut Ambarita yang menamakan dirinya  Komunitas Lembaga Adat Keturunan Pomparan Ompu Manontang Laut Ambarita  Sihaporas (LAMTORAS) mengaku/mengklaim memiliki tanah ulayat /tanah adat di wilayah di  Nagori Sihaporas  Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara.

Meminta kepada Presiden agar pihak Kementrian Kehutanan RI  Cq.Direktur (PKTHA) Kementrian Lingkungan Hidup  dan Kehutanan  untuk tidak mengeluarkan Surat Keputusan tentang adanya Tanah Adat/Tanah Ulayat Tanah Adat  Keturunan Siallgan di  wilayah  Desa  Parmonangan Kecamatan Dolok Panribuan Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara

Meminta kepada Kementrian Kehutanan untuk segera menguasai, mengelola lahan eks PT Toba Pulp Lestari Provinsi Sumatera Utara yang berada wilayah kabupaten simalungun setelah terbitnya SK Mentri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2026 Tanggal 26 Januari 2026 untuk menghindari adanya konflik horijontal ditengah-tengah masyarakat.

Meminta Kepada Presiden Republik Indonesia melalui Kementrian Kehutanan Republik Indonesai untuk secara resmi menetapkan status hukum lahan eks PT Toba Pulp Lestari Provinsi Sumatera Utara di wilayah Kabupaten Simalungun.

Menginstruksikan aparat penegak hukum untuk melakukan penertiban terhadap penguasaan lahan tanpa legalitas yang sah eks PT Toba Pulp Lestari Provinsi Sumatera Utara di wilayah Kabupaten Simalungun.

Melakukan verifikasi faktual dan yuridis secara komprehensif lahan eks PT Toba Pulp Lestari Provinsi Sumatera Utara di wilayah Kabupaten Simalungun sebelum adanya pengakuan terhadap klaim masyarakat adat.

Meminta kepada Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH)  untuk melaksanakan pengawasan, pegamanan tentang lahan eks PT Toba Pulp Lestari Provinsi Sumatera Utara di wilayah Kabupaten Simalungun, sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya yang diatur dalam Perpres No.5 tahun 2025.

Menjamin bahwa setiap proses penyelesaian dilakukan berdasarkan hukum positif, transparan, dan tidak memberi ruang terhadap tindakan sepihak apalagi klaim oleh kelompok kelompok tertentu.

Meminta kepada Pemerintah agar karyawan yang bekerja selama ini di PT Toba Pulp Lestari Provinsi Sumatera Utara untuk melindungi hak-hak mereka sebagaimana Undang-Undang dan peraturan ketenaga kerjaan yang berlaku di Republik Indonesia.

Untuk menghindari adanya gesekan antar masyarakat suku Simalungun secara umum dan secara khusus masyarakat  di wilayah Nagori Sihaporas Kecamatan Pamatang Sidamanik Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara demikian juga di Desa Dolok Parmonangan Kecamatan Dolok Panribuan yang bisa menjadikan konflik horizontal dengan pihak-pihak yang mengaku/mengklaim memiliki tanah ulayat /tanah adat di wilayah Nagori Sihaporas Kecamatan Pamatang Sidamanik demikian juga yang menyatakan adanya Tanah Adat  Keturunan Siallgan di  wilayah  Desa  Parmonangan Kecamatan Dolok Panribuan Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara, kiranya Bapak Presiden mengintruksikan pihak Kementrian Kehutanan  RI segera menyelesaikan hal dimaksud sesuai kewenangan yang diatur oleh undang-undang dan peraturan yang berlaku tentang hal tersebut.

Meminta kepada ketua/Chief Executife officer Danantara Republik Indonesia agar segera mengambil alih pengelolaan eks PT. Toba Pulp Lestari sebagaimana yang di programkan oleh Pemerintah Pusat untuk menghindari adanya konflik horizontal dengan pihak-pihak yang mengaku/mengklaim memiliki tanah ulayat /tanah adat di wilayah Nagori Sihaporas Kecamatan Pamatang Sidamanik demikian juga yang menyatakan adanya Tanah Adat  Keturunan Siallgan di  wilayah  Desa  Parmonangan Kecamatan Dolok Panribuan Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara, karena memang telah ditetapkan oleh Pemerintah bahwa tanah eks PT. Toba Pulp Lestari dikuasiai  oleh Negara Sesuai dengan SK Mentri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2026 Tanggal 26 Januari 2026 Dicabut selanjuntnya Kawasan Hutan ini dikuasai oleh Negara  CQ Kementrian Kehutanan tentang Pencabutan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan  atas nama PT Toba Pulp Lestari Provinsi Sumatera Utara.

Meminta kepada Pemerintah Kabupaten Simalungun agar tetap konsisten tidak mengeluarkan Peraturan Daerah (PERDA) tentang tanah adat di wilayah Kabupaten Simalungun

Meminta kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Simalungun agar tidak menetapkan Peraturan Daerah (PERDA) tentang tanah adat di wilayah Kabupaten Simalungun

Tembusan surat disampaikan kepada Mentri ATR/BPN RI di Jakarta,Komnas HAM di Jakarta,Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Jakarta ,Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) di Jakarta

Ketua DPRD Sumatera Utara,Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara di Medan, KPH Wilayah II, Jl.Simanuk-manuk Pematangsiantar, Organisasi dan institusi Simalungun,Pertinggal.(tp)

 

Tags: adatsarmeditanah
Share43Tweet27SendShare
ADVERTISEMENT

Berita Terkait

Inspirasi

HPSI Gelar Sosialisasi Partuturan dan Pakaian Adat Simalungun kepada Siswa SMA GKPS Pamatang Raya Simalungun, Aloling Simalungun Harungguan Purba Simalungun Indonesia (HPSI) merasa terpanggil dan bertanggung jawab dalam mensosialisakan adat dan budaya simalungun kepada generasi penerus bangsa yang merupakan garda terdepan dalam melestarikan adat dan budaya. Bertempat di Gedung Aula SMA GKPS Pamatang Raya pada hari Jumat, 8 Mei 2026 acara tersebut dibuka langsung oleh Ketua Umum HPSI bapak Mangapul Purba, S.E,M.I.Kom yang juga ketua fraksi PDIP DPRD Sumatera Utara telah berlangsung dengan baik.Dalam sambutannya beliau menyatakan bahwa peradaban bangsa Indonesia tidak terlepas dari Kebudayaan Daerah, kebudayaan menjadi salah satu factor utama dalam pembangunan nasional Peserta sosialisasi terdiri dari Siswa dan Guru SMA GKPS Pematang Raya dibawah kepemimpinan Kepala Sekolah, Julven Purba, S.Pd, dalam sambutannya beliau sangat berterimakasih atas kegiatan ini sehingga dengan kegiatan ini kami semakin memahami bagaimana adat budaya Simalungun itu dilaksanakan pada kehidupan sehari-hari khusunya tentang partuturan Adat Budaya Simalungun yang setiap hari baik dilingkungan keluarga, lingkungan sekolah selalu diterapkan, tata karma bagi kami terkhusus siswa dapat diterapkan sebagaimana lazimnya pada budaya simalungun, demikin juga tentang pemakaian adat dan budaya Simalungun. Diawal acara dilaksanakan acara pangalo-aloan kepada Rombongan HPSI dengan tortor Simalungun yang ditampilkan oleh Siswa SMA GKPS, dilanjutkan dengan ibadah, kemudian acara nasional menyanyikan lagu Indonesia Raya dan acara Sosilasisasi. Rohdian Purba, S,Si,M.Si selaku Sekretaris DPP HPSI yang juga menjadi narasumber dengan Materi Partuturan Adat Budaya Simalungun menjelaskan bahwa pada saat sekarang ini anak-anak milenial sudah banyak tidak memahami tentang partuturan dalam adat budaya simalungun, sekarang ini akibat ketidak pahaman mereka maka banyhak bersalahan pada panggilan terhadap sesama, orangtua dan kerabat keluarga lainnya, bilama mana tidak kita tanamkan, sosialisasikan partuturan simalungun dimaksud dikwatirkan 10 sampai 20 tahun kedepan maka akan tergerus bahkan hilang sehingga berakibatkan hubungan kekerabatan yang baik selama ini akan menjadi masalah yang sangat besar, mengapa misalnya panggilan makela dalam adat simalungun saat ini sudah sering didengar oleh anak nak bukan lagi makela tapi sudah dipanggil kel, panggilang tulang sudah sering kita dengar disapa oleh anak-anak menjadi tul, ini sangat menyalaha, mengapa terjadi hal demikian karena anak-anak tidak memahami sebenarnya bagiamana peran serta Sananina, Tondong dan Boru dalam peradaban adat dan Budaya Simalungun. Bahkan dalam pergaulan sehari hari antara anak-anak kuda yang berajnak dewasa bisa mengkwatirkan dalam menuju jenjang perkawinan dimasa-masa berpacaran, karena dalam adat budaya simalungun walaupun marga berbeda tidak serta merta bisa menikah/kawan misalnya; borunya namboru kita (anak perempuan dari saudara perempuan bapak) itu tidak bisa kita nikahi. Tapi borunya (anak perempuan) dari tulang kita itu bisa dinikahi yang disebut marboru tulang, atau disebut pariban. Demikian jika ibu kita memilki saudara kandung perempuan dan memilki anak perempuan (boru), kita sebagai laki-laki juga tidak bisa menikahinya, hal-hal yang seperti ini juga perlu kita ajarkan kepada generasi milenial sekarang ,apalagi mereka setelah tammat dari Sekolah akan banyak pergi merantau jauh dari orang tua, dengan tidak memahami hal dimaksud diperantauan bisa berakibat tidak baik dalam peradaban budaya simalungun nantinya, dan banyak hal lagi akibatnya jika partururan dalam budaya Simalungun tidak mereka pahami, hal ini yang perlu sejak dini kita samapaikan buat anak-anak. Demikian juga tentang pakaian adat budaya simalungun yang disamapaikan bapak Djapaten Purba, BME bahwa sejak dini perlu ditanamkan kepada anak-anak milenial, karena pada saat ini sudah banyak kita lihat ditengah-tengah masyarakat dalam acara adat budaya simalungun baik suka maupu n duka sudah tidak sesuai lagi dengan sebenarnya, menurut beliau semua pemakaian hiou simalungun itu memiliki arti dan makna khsusus bagi kehidupan sehar-hari, baik itu gotong, bulang suri-suri, ragi cantik dll termasuk tata cara pemakaiannya misalnya jika seorang bapak memakai suri-suri itu berwarna hitam namu jika perempuan memakai suri-suri bisa warna bebas, demikain juga jika sudah memakai gotong, maka wajib memakai suri-suri dan abit/ragi panei atau ragi cantik untuk laki-laki demikian juga perempuan/ inang jika sudah memakai bulang, wajib memakai suri-suri dan abit. Diakhir acara siswa dan guru SMA GKPS Pamatang Raya sangat mengapresiasi kegiatan sosialisasi ini karena mereka lebih memahami tentang adat budaya simalungun yang bisa mereka terapkan pada kehidupan sehar-hari baik dilingkungan sekolah, keluarga dan kekerabatan dalam lingkungan keluarga mereka, yang diakhiri dengan pemberian cendramata oleh kepala sekolah kepada Ketua Umum HPSI dan kedua narasumber. (rel)

by Redaksi
9 Mei 2026 | 14:54 WIB
0

Simalungun, Aloling Simalungun Harungguan Purba Simalungun Indonesia (HPSI) merasa terpanggil dan bertanggung jawab dalam mensosialisakan adat dan budaya simalungun kepada...

Read more
Inspirasi

Rohdian Purba : “Kemajuan USI Melekat Keinginan Hati untuk Memajukannya”

by Redaksi
8 Mei 2026 | 16:37 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Terkait untuk memajukan Yayasan Universitas Simalungun diutamakan adanya keinginan hati untuk bekerja maksimal dalam memajukan sekolah dan...

Read more
Inspirasi

Hari Pendidikan Nasional 2026 di SMA Negeri 1 Pematangsiantar,  August Sinaga Tekankan Peningkatan Kualitas Di Dalam Kelas

by Redaksi
2 Mei 2026 | 10:47 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Provinsi Sumatera Utara (Siantar-Simalungun) Hardiknas tidak hanya sekadar ajang seremonial, tetapi...

Read more
Inspirasi

Bedah Buku Diutus Melintasi Batas, Biografi Marie Claire Barth Frommel

by Redaksi
22 April 2026 | 08:45 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun GMKI Siantar-Simalungun dan STT HKBP P.Siantar menggelar acara Bedah Buku Diutus Melintasi Batas, Biografi Marie Claire Barth...

Read more

Berita Terbaru

Nasional

ABPEDNAS Cetak Sejarah, Raih 100 Ribu Anggota Bertepatan Hari Lahir Pancasila 2026

2 Juni 2026 | 19:24 WIB
Entertainment

Parsadaan Purba Pakpak Boru Panogolan (P3BP) Gelar Rakernas di Siantar  

1 Juni 2026 | 20:17 WIB
Siantar - Simalungun

ASN Pemkab Simalungun Melaksanakan Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026: Refleksi Memastikan Pancasila Tetap Menyala

1 Juni 2026 | 20:09 WIB
Entertainment

Erik Tarigan : Anak Siantar Abetnego Tarigan Sangat Perduli dengan Siantar – Simalungun 

1 Juni 2026 | 10:35 WIB
Regional

Pemko Tebing Tinggi Raih Opini WTP Delapan Kali Berturut-Turut, Walikota: Jadikan Motivasi Pembangunan Kota yang Lebih Baik 

29 Mei 2026 | 18:50 WIB
Entertainment

Anak Siantar David Sotar Karter Pardosi Pengusaha Muda  yang Merambah Hingga ke Luar Pulau Sumatera 

28 Mei 2026 | 18:57 WIB
Siantar - Simalungun

Penyembelihan Hewan Qurban Warga Lingkungan III Kelurahan Simarito Berjalan Lancar

28 Mei 2026 | 09:28 WIB
Entertainment

Pengurus Lokal Badan Kerjasama PGI-GMKI Pematang Siantar-Simalungun Periode 2026-2031 Resmi Dilantik

25 Mei 2026 | 20:53 WIB
Siantar - Simalungun

Terima Kunjungan Pemkab Aceh Utara, Pemkab Simalungun Bantu Penanganan Bencana

25 Mei 2026 | 17:37 WIB
Regional

Perkuat Pelayanan Publik Berbasis Digital, Pemko Tebing Tinggi dan Pemko Tanjung Balai Jalin Kerjasama Strategis

22 Mei 2026 | 20:06 WIB
Siantar - Simalungun

Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Simalungun: Posyandu Sudah Bertransformasi Pelayanan 6 Siklus Hidup

22 Mei 2026 | 17:05 WIB
Regional

Perkuat Pelayanan Publik Berbasis Digital Pemko Tebing Tinggi dan Pemko Tanjung Balai Jalin Kerja Sama Strategis

22 Mei 2026 | 16:18 WIB
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun