Aloling Simalungun
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman
Rabu, 22 Juli 2026
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
No Result
View All Result
Aloling Simalungun
No Result
View All Result
  • SMSI
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
Home Inspirasi

Demi LISA, Para Camat Atur Gaya Bersih

Catatan: Imran Nasution

by Redaksi
19 Maret 2022 | 02:07 WIB
in Inspirasi
A A
Konsep Otomatis
ADVERTISEMENT
61
SHARES
76
VIEWS

LISA itu bukan gadis cantik seperti Nawangwulan yang turun menggunakan pelangi untuk mandi-mandi di telaga bumi. Kemudian, gaunnya diambil Jaka Tarup untuk kemudian membangun mahligai rumah tangga, seperti legenda Babat Tanah Jawi.

Sekarang, LISA itu ada di Kota Siantar dan tidak datang dari kayangan karena kepanjangan LISA adalah ”Lihat Sampah Ambil”. Merupakan gerakan kebersihan yang dicanangkan dr Hj Susanti Dewayani setelah beberapa minggu menjadi Plt Wali Kota.

Lantas, saat LISA diluncurkan Rabu (9/3/2022), para Camat langsung atur gaya untuk bersih-bersih melalui kegiatan gotong royong bersama para lurah, masyarakat maupun berbagai organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan.

Demi LISA, ada Camat dan Lurah tak segan-segan masuk parit membersihkan sampah dan mengorek sendimen yang dangkal, berair campur minyak. Sehingga ikan gobi atau ikan buricak enggan berkembang biak. Tujuannya, untuk mengantisipasi banjir saat musim hujan tiba.

LISA memang tidak sepopuler berita artis Aura Kasih yang langsing tanpa menyedot lemak di tubuh. Tapi, paling tidak, hangat diperbincangkan dan berupaya diviralkan. Karena setiap ada kegiatan bersih-bersih, selalu diposting ke media sosial. Padahal, para Camat selama ini lebih suka mengarahkan telunjuk kepada petugas kebersihan untuk urusan kebersihan.

Sementara, petugas kebersihan itu sering duduk di bawah pohon yang sedikit rindang. Sambil menyeka keringat, minum air putih yang dibawa dari rumah karena gajinya yang kecil, tidak ada dialokasikan untuk membeli air mineral. Apalagi untuk memenuhi kebutuhan pokok saja belum memadai. Sehingga, sudah terbiasa menerapkan pola hidup amat sangat sederhana.

Diketahui, hasil publikasi dari Kominfo Pemko Siantar, seluruh Camat rata-rata sudah bergerak melaksanakan program LISA. Tapi, perlu diketahui, Camat Siantar Barat, jauh hari sebelum ada LISA, sudah mengorek parit dan mengangkut sampah di areal perkotaan.

Tapi, kalau pun ada Camat melakukan gerakan kebersihan karena LISA, tentu tidak salah. Karena, Camat itu memang baru mau bekerja setelah digerakkan LISA sebagai program Plt Wali Kota yang memang perlu diapresiasi.

Kemudian, setelah LISA diluncurkan, Kecamatan Siantar Barat dengan slogan “Ojo Kendor” tetap mendalamkan parit, membenahi Taman Kelurahan dan menghalo-halokan masyarakat agar menjaga kebersihan dan membuang sampah di Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS).

Selain itu, pemukiman masyarakat di Kelurahan Tomuan yang selama ini banjir saat hujan deras, tidak banjir lagi karena drainase yang tersumbat dibersihkan pasukan SITIUR (Siantar Timur Untuk Rakyat). Kecamatan Siantar Utara dan lurah juga bergerak bergotongroyong dengan menerjun Tim Tanggap Kecamatan. Demikian juga di Kecamatan Siantar Marihat dan kecamatan lainnya di seluruh Kota Siantar.

Sebelumnya, Plt Wali Kota dr Hj Susanti Dewayani mengatakan pelaksanaan LISA harus dilakukan dengan prinsip 5S, Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun. Untuk itu, kening para Camat dan Lurah jangan pernah berkerut dan cemberut melakukan LISA. Karena, akan terus dipantau, dilihat, dan diawasi.

Kemudian, perlu diingatkan, program LISA sejatinya tidak hanya dilakukan para pejabat tingkat kota, kecamatan sampai kelurahan. Lebih dari itu, bagaimana caranya agar masyarakat memiliki kesadaran mendukung program LISA. Dengan kesadaran sendiri, turut aktif menjaga kebersihan.

Sementara, yang tidak kalah penting, ketersediaan Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS) tentu menjadi salah satu pendukung untuk peningkatan kebersihan itu. Apalagi TPSS di sejumlah kelurahan perlu penambahan. Tetapi, kontinuitas pengangkutannya juga wajib diperhatikan. Sehingga, tidak ada sampah yang berserakan karena telat diangkut.

PIALA ADIPURA

Gerakan LISA yang targetnya mengarah untuk meraih piala Adipura, lambang supremasi kota terbersih se Indonesia, tentu perlu diapresiasi. Meski Siantar sempat disebut sebagai kota Adipura dengan meraih Adipura Kencana, kondisi kota Siantar saat ini memang bukan hanya sekedar kotor , tetapi termasuk kumuh.

Gerakan LISA yang minimal dapat membuat Kota Siantar lebih bersih dari kondisi sebelumnya hanya salah satu persyaratan meraih Piala Adipura itu. Tapi, soal semraut dan kumuh yang menjadi salah satu problem, wajib menjadi perhatian.

Lihatlah pedagang kaki lima di sekitar Pasar Horas dan Pasar Dwikora. Eks terminal Suka Dame yang sekarang menjadi Terminal Agrobisnis. Keberadaan stasiun bus antar kota yang malah berada di areal perkotaan. Belum lagi bangunan yang berdiri di atas drainase dan lokasi terlarang.

Untuk meraih Piala Adipura memang tidak mudah apalagi dilakukan dengan pura-pura atau hanya supaya pejabat yang berkaitan dinilai Plt Wali Kota aktif. Karenanya, LISA hanya sebagai langkah awal. Sedangkan langkah selanjutnya masih banyak harus dilakukan. Dan, itu perlu dukungan semua pihak.

Namun sebagai motivasi khususnya untuk para camat se Kota Siantar, Plt Wali Kota perlu membuat lomba kecamatan terbaik agar setiap kecamatan berbenah menciptakan Siantar tidak kumuh dan semraut. Tapi, bersih, indah dan berbunga (Berhiber). (***)

Tags: bersihbersihcamatdemilisa
Share24Tweet15SendShare
ADVERTISEMENT

Berita Terkait

Inspirasi

PUSTAKA NOMMENSEN: Kebakaran Pasar Dwikora Bukan Hanya Musibah, tetapi Alarm Tata Kelola

by Redaksi
25 Juni 2026 | 20:47 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Pusat Studi Kebijakan Publik dan Politik (PUSTAKA NOMMENSEN) Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar menilai kebakaran Pasar Dwikora harus...

Read more
Inspirasi

Dr.Sarmedi Purba SPOG Setuju Organisasi Adat Budaya dan Cendikiawan Simalungun Bersatu

by Redaksi
19 Juni 2026 | 09:29 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Pemangku Adat dan Cendekiawan Simalungun (DPP-PACS) Dr.Sarmedi Purba mengatakan Setuju agar Organisasi...

Read more
Inspirasi

Drs.Johalim Purba Berharap Organisasi Adat Budaya dan Cendikiawan Simalungun Bersatu 

by Redaksi
18 Juni 2026 | 11:33 WIB
0

Simalungun, Aloling Simalungun Organisasi Adat Budaya dan Cendikiawan Simalungun yang pada awalnya berada dalam satu wadah Partuha Maujana Simalungun diharapkan...

Read more
Inspirasi

HPSI Gelar Sosialisasi Partuturan dan Pakaian Adat Simalungun kepada Siswa SMA GKPS Pamatang Raya Simalungun, Aloling Simalungun Harungguan Purba Simalungun Indonesia (HPSI) merasa terpanggil dan bertanggung jawab dalam mensosialisakan adat dan budaya simalungun kepada generasi penerus bangsa yang merupakan garda terdepan dalam melestarikan adat dan budaya. Bertempat di Gedung Aula SMA GKPS Pamatang Raya pada hari Jumat, 8 Mei 2026 acara tersebut dibuka langsung oleh Ketua Umum HPSI bapak Mangapul Purba, S.E,M.I.Kom yang juga ketua fraksi PDIP DPRD Sumatera Utara telah berlangsung dengan baik.Dalam sambutannya beliau menyatakan bahwa peradaban bangsa Indonesia tidak terlepas dari Kebudayaan Daerah, kebudayaan menjadi salah satu factor utama dalam pembangunan nasional Peserta sosialisasi terdiri dari Siswa dan Guru SMA GKPS Pematang Raya dibawah kepemimpinan Kepala Sekolah, Julven Purba, S.Pd, dalam sambutannya beliau sangat berterimakasih atas kegiatan ini sehingga dengan kegiatan ini kami semakin memahami bagaimana adat budaya Simalungun itu dilaksanakan pada kehidupan sehari-hari khusunya tentang partuturan Adat Budaya Simalungun yang setiap hari baik dilingkungan keluarga, lingkungan sekolah selalu diterapkan, tata karma bagi kami terkhusus siswa dapat diterapkan sebagaimana lazimnya pada budaya simalungun, demikin juga tentang pemakaian adat dan budaya Simalungun. Diawal acara dilaksanakan acara pangalo-aloan kepada Rombongan HPSI dengan tortor Simalungun yang ditampilkan oleh Siswa SMA GKPS, dilanjutkan dengan ibadah, kemudian acara nasional menyanyikan lagu Indonesia Raya dan acara Sosilasisasi. Rohdian Purba, S,Si,M.Si selaku Sekretaris DPP HPSI yang juga menjadi narasumber dengan Materi Partuturan Adat Budaya Simalungun menjelaskan bahwa pada saat sekarang ini anak-anak milenial sudah banyak tidak memahami tentang partuturan dalam adat budaya simalungun, sekarang ini akibat ketidak pahaman mereka maka banyhak bersalahan pada panggilan terhadap sesama, orangtua dan kerabat keluarga lainnya, bilama mana tidak kita tanamkan, sosialisasikan partuturan simalungun dimaksud dikwatirkan 10 sampai 20 tahun kedepan maka akan tergerus bahkan hilang sehingga berakibatkan hubungan kekerabatan yang baik selama ini akan menjadi masalah yang sangat besar, mengapa misalnya panggilan makela dalam adat simalungun saat ini sudah sering didengar oleh anak nak bukan lagi makela tapi sudah dipanggil kel, panggilang tulang sudah sering kita dengar disapa oleh anak-anak menjadi tul, ini sangat menyalaha, mengapa terjadi hal demikian karena anak-anak tidak memahami sebenarnya bagiamana peran serta Sananina, Tondong dan Boru dalam peradaban adat dan Budaya Simalungun. Bahkan dalam pergaulan sehari hari antara anak-anak kuda yang berajnak dewasa bisa mengkwatirkan dalam menuju jenjang perkawinan dimasa-masa berpacaran, karena dalam adat budaya simalungun walaupun marga berbeda tidak serta merta bisa menikah/kawan misalnya; borunya namboru kita (anak perempuan dari saudara perempuan bapak) itu tidak bisa kita nikahi. Tapi borunya (anak perempuan) dari tulang kita itu bisa dinikahi yang disebut marboru tulang, atau disebut pariban. Demikian jika ibu kita memilki saudara kandung perempuan dan memilki anak perempuan (boru), kita sebagai laki-laki juga tidak bisa menikahinya, hal-hal yang seperti ini juga perlu kita ajarkan kepada generasi milenial sekarang ,apalagi mereka setelah tammat dari Sekolah akan banyak pergi merantau jauh dari orang tua, dengan tidak memahami hal dimaksud diperantauan bisa berakibat tidak baik dalam peradaban budaya simalungun nantinya, dan banyak hal lagi akibatnya jika partururan dalam budaya Simalungun tidak mereka pahami, hal ini yang perlu sejak dini kita samapaikan buat anak-anak. Demikian juga tentang pakaian adat budaya simalungun yang disamapaikan bapak Djapaten Purba, BME bahwa sejak dini perlu ditanamkan kepada anak-anak milenial, karena pada saat ini sudah banyak kita lihat ditengah-tengah masyarakat dalam acara adat budaya simalungun baik suka maupu n duka sudah tidak sesuai lagi dengan sebenarnya, menurut beliau semua pemakaian hiou simalungun itu memiliki arti dan makna khsusus bagi kehidupan sehar-hari, baik itu gotong, bulang suri-suri, ragi cantik dll termasuk tata cara pemakaiannya misalnya jika seorang bapak memakai suri-suri itu berwarna hitam namu jika perempuan memakai suri-suri bisa warna bebas, demikain juga jika sudah memakai gotong, maka wajib memakai suri-suri dan abit/ragi panei atau ragi cantik untuk laki-laki demikian juga perempuan/ inang jika sudah memakai bulang, wajib memakai suri-suri dan abit. Diakhir acara siswa dan guru SMA GKPS Pamatang Raya sangat mengapresiasi kegiatan sosialisasi ini karena mereka lebih memahami tentang adat budaya simalungun yang bisa mereka terapkan pada kehidupan sehar-hari baik dilingkungan sekolah, keluarga dan kekerabatan dalam lingkungan keluarga mereka, yang diakhiri dengan pemberian cendramata oleh kepala sekolah kepada Ketua Umum HPSI dan kedua narasumber. (rel)

by Redaksi
9 Mei 2026 | 14:54 WIB
0

Simalungun, Aloling Simalungun Harungguan Purba Simalungun Indonesia (HPSI) merasa terpanggil dan bertanggung jawab dalam mensosialisakan adat dan budaya simalungun kepada...

Read more

Discussion about this post

Berita Terbaru

Siantar - Simalungun

Penyelesaian Surat BPHTB Wajib, lunas PBB

22 Juli 2026 | 11:33 WIB
Siantar - Simalungun

Tinjau Lokasi Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI, Sekda Simalungun Pastikan Semua Aspek Pendukung Optimal

22 Juli 2026 | 11:24 WIB
Regional

Buka Sosialisasi Desa Binaan Imigrasi Sekda Tebing Tinggi Minta Lurah Mampu Deteksi Dini Modus TPPO dan TPPM

21 Juli 2026 | 18:18 WIB
Siantar - Simalungun

Nobar Final Piala Dunia 2026 Pemkab Simalungun Penuh Semangat Kebersamaan

20 Juli 2026 | 12:11 WIB
Entertainment

PP 59 Siantar–Simalungun Resmi Dilantik, Siap Bersinergi Membangun Daerah

18 Juli 2026 | 18:14 WIB
Entertainment

Berkunjung ke Kecamatan Hatonduhan, Bupati Simalungun Siapkan Program Prioritas

17 Juli 2026 | 18:26 WIB
Entertainment

Berkunjung ke Kecamatan Raya: Bupati Simalungun Luncurkan Program Prioritas

16 Juli 2026 | 19:59 WIB
Siantar - Simalungun

Tim Monitoring Kemendagri Berikan Apresiasi Realisasi TKD di Kabupaten Simalungun

16 Juli 2026 | 18:16 WIB
Entertainment

Berkunjung ke Kecamatan Dolok Masagal, Bupati Simalungun Kucurkan Anggaran Infrastruktur dan Hadirkan Pelayanan Terpadu

16 Juli 2026 | 15:46 WIB
Entertainment

Tertibkan Kenderaan Dinas, Pemkab Simalungun Gelar Apel Kendaraan

15 Juli 2026 | 20:13 WIB
Entertainment

Persiapan HUT ke-81 Kemerdekaan RI Tahun 2026: Pemkab Simalungun Rencanakan Upacara Digelar di Kecamatan Dolok Batu Nanggar

15 Juli 2026 | 18:07 WIB
Entertainment

FGD dan Penanaman Pohon di Panombeian Panei: GMKI, GAMKI, dan PIKI Perkuat Sinergi Pemuda Mengawal Pembangunan Pertanian Berkelanjutan

15 Juli 2026 | 11:46 WIB
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun