SEMASA Indonesia masih di bawah cengkraman Kolonial Belada dan setelah Indonesia Merdeka, Pematang Siantar (Siantar-red) merupakan salah satu kota penting yang tercatat dalam lembaran sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia.
Disebut sebagai kota penting, Siantar yang dibelah sungai Bah Bolon disebut Kolonial Belanda sebagai “Paris van Sumatera”. Menjadi kota kembar (Twin City ) “Paris van Java” Bandung yang dibelah sungai Cikapundung.
Siantar dan Bandung yang sama-sama beriklim sejuk, pernah dikelilingi hamparan perkebunan teh nan hijau membentang sebagai kota peristrahatan para meneer & mevrouw (tuan dan nyonya) pejabat Kolonial setelah letih mengelilingi tanah jajahan.
Ketika Indonesia merdeka dan di Jakarta sebagai ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bendera pusaka Merah Putih pertama dikibarkan tanggal 17 Agustus 1945. Namun, di Kota Siantar malah baru berkibar tanggal 27 September 1945.
Dari gambaran tersebut, sebenarnya ada apa dengan Siantar sebelum Indonesia Merdeka yang sempat merupakan kerajaan Nagur, berkedudukan di pulau Holing yang sekarang, Pamatang Kelurahan Simalungun ?
Jawaban tersebut, ditemukan dalam lembaran buku berjudul “Siantar Berdarah” terbitan tahun 1992, buah karya H Erizal Kesuma Ginting. Kata pengantar ditulis Wali Kota Siantar saat dijabat Zulkifli Harahap, Bupati Simalungun Djabanten Damanik, Ketua DPRD Siantar Laurimba Saragih serta pejabat TNI/Polri.
Meski secara resmi Indonesia telah merdeka tanggal 17Agustus 1945, di sejumlah daerah masih tetap terjadi gejolak karena Kolonial Belanda masih berusaha mempertahankan tanah jajahan dan enggan angkat kaki dari bumi pertiwi.
Khusus di Kota Siantar, malah terjadi gejolak “membara”. Di sekitar Lapangan Merdeka (Taman Bunga), depan Balai Kota (kantor Wali Kota-red) Jalan Merdeka dan di belakangnya Hotel Siantar, Jalan Wage Rudolf Supratman.
Lokasi tersebut merupakan wilayah perbatasan (demarkasi) para pejuang Indonesia dengan KNIL Belanda yang waktu itu ditandai dengan peristiwa Polinesial tahun 1945. Kubu pejuang Indonesia berada di sekitar Balai Kota dan Gedung Juang samping lokasi parkir pariwisata sekarang. Sedangkan kubu KNIL Belanda di Siantar Hotel. Sehingga, perbatasannya adalah Lapangan Merdeka yang saat itu masih satu dengan lokasi parkir pariwisata.
Kemudian, tanggal 27 September 1945 terjadi kontak senjata. Saat itu ada dua anak muda bernama Muda Rajagukguk dan Ismail Situmorang, berusaha mengibarkan bendera kebangsaan Merah Putih. Namun, akhirnya gugur sebagai kesuma bangsa ditembak pasukan KNIL Belanda.
Untuk mengenang jasa kedua pahlawan muda gagah berani itu, dibangun prasasti di lokasi peristiwa berdarah tersebut. Persisnya di lapangan parkir pariwisata Jalan Merdeka di samping gedung Dekranasda Kota Siantar.
Bertuliskan, ”Tanggal 27 September 1945, di sekitar ini terjadi peristiwa upacara penggerekan/pengibaran bendera Merah Putih yang pertama di Kota Pematangsiantar/Simalungun. Oleh Pemuda Pribumi dan Kekuatan Rakyat Siantar/Simalungun”.
Saat ini, Prasasti Pengibaran Bendera Merah Putih Pertama di Kota Siantar itu telah direnovasi Pemko Siantar tahun 2021 lalu. Di depannya, ada empat tiang bendera. Di sebelahnya lagi, berdiri tembok seperti plang dengan permukaan keramik hitam setinggi sekitar 3 meter dan lebar 1,5 meter.
Di permukaan batu hitam itu ditulis teks proklamasi yang hurufnya ada sudah lepas. “Proklamasi. Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan dan kekoeasaan dll, Diselenggarakan dengan Tjara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Djakarta, Di hari 17, Boelan 08 Tahoen 45. Atas Nama Bangsa Indonesia. Soekarno-Hatta”.
KESEPIAN DI ANTARA KERAMAIAN
Karena, dihalangi pentas yang bentuknya seperti tratak dan tanpa estetika yang berada di lokasi lapangan parkIr, Prasasti Pengibaran Merah Putih Pertama di Kota Siantar itu seperti tersembunyi kalau dipandang dari Jalan Merdeka.
Kusdianto sebagai Kadis Pariwisata yang kebetulan berada di depan prasasti mengamati pentas yang akan direnovasi mengatakan, pada Malam Renungan, tanggal 16 Agustus 2022 dan pada perayaan puncak Dirgahayu Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2022, tidak ada upacara khusus dilakukan di sekitar lokasi prasasti itu.
“Informasi yang saya terima dari Kesbanglinmas, tidak ada kegiatan terkait perayaan kemerdekaan di sekitar prasasti atau lapangan parkir pariwisata ini,” ujar Kusdianto singkat sembari mengatakan kalau penulis punya ide, pihaknya mengatakan siap melakukan kegiatan. untuk tahun depan atau 2023 mendatang.
Sementara, hasil jejak pendapat penulis, Senin (15/8/2022) dengan sejumlah pelajar, mahasiswa atau generasi muda milenial, mereka ternyata tidak mengetahui tentang keberadaan Prasasti Pengibaran Bendera Merah Putih Pertama di Kota Siantar itu.
“Betul nggak tau karena tidak ada informasi selama ini. Saya malah tau baru saat abang ceritakan,” ujar salah seorang pelajar yang baru pulang sekolah dari SMA Swasta di Jalan Kartini, Kecamatan Siantar Barat, bersama dua orang temannya.
Pengamatan penulis, di antara masyarakat yang berlalu lalang di sekitar lokasi parkir pariwisata itu, tiada yang tampak menoleh ke Prasasti Pengibaran Bendera Merah Putih Pertama di Siantar tersebut. Sehingga, keberadaannya seperti kesepian di antara keramaian.
Kemudian, bendera Merah Putih yang dipasang pada empat tiang di depan prasasti, tampak berkibar seperti malu-malu saat ditiup angin sepoi-sepoi yang berhembus sahdu. Padahal, saat angin kencang berhembus, kibarannya begitu gagah berani.
PENUTUP
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa-jasa para pahlawannya. Gugur sebagai kesuma bangsa sambil berteriak, Merdeka!
(Tulisan ini untuk lomba menulis Dirgahayu Kemerdekaan RI 2022)







Discussion about this post