Aloling Simalungun
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman
Kamis, 4 Juni 2026
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
No Result
View All Result
Aloling Simalungun
No Result
View All Result
  • SMSI
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
Home Inspirasi
Asmen,S.Pd.MM

Asmen,S.Pd.MM

Esensi Berkurban

Oleh : Asmen, S.Pd.MM

by Redaksi
29 Juli 2020 | 15:03 WIB
in Inspirasi
A A
ADVERTISEMENT
106
SHARES
132
VIEWS

Kegalauan Ibrahim AS

Nabi Ibrahim AS begitu galau awalnya ketika menerima perintah berqurban  ( kurban/korban: Indonesia) dari Allah SWT, karena anak lelaki yang sudah sekitar 80 tahun  beliau nantikan kelahirannya itu, justeru dimintakan untuk dijadikan sembelihan oleh Sang Khaliq, sebagai wujud ketaatannya.  Beberapa saat  Ibrahim berfikir dan serasa sulit menyampaikan perintah tersebut kepada isteri dan anaknya Ismail AS.

Perintah penyembelihan itu, pertama sekali beliau sampaikan kepada isterinya, dengan rasa haru isterinya memberi jawaban “ Jika itu perintah Allah, maka laksanakanlah, demi robb Tuhan semesta alam yang Maha Pengasih saya ikhlas dan rela Ismail diqurbankan”

Selanjutnya, Ibrahim menjadi semakin galau, dengan cara bagaimana beliau harus menyampaikan perintah Allah  tersebut kepada Ismail anaknya. Padahal justeru Ismail yang akan disembelih oleh bapaknya sendiri. Dengan nada lirih dan sedih :                                                                                                                                          “Ibrahim   berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa  pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” QS Ash Shaffat : 102)

Inilah jawaban cerdas anak soleh, yang ia sadar dan faham, bahwa orangtuanya yang selama ini mengasuhnya  adalah orang yang taat beragama serta sangat menyayanginya. Ismail sangat yakin, bahwa bapaknya bukan mengada-ada dalam hal ini. Sudah pasti ini wahyu dan titah Robb yang Maha Perkasa. Dengan segala kerendahan hati, bapak, ibu dan anak  patuh atas perintah Tuhan, merelakan apapun demi mendapatkan ridhaNya. Meskipun harus kehilangan salah seorang anggota keluarga yang sangat dicintainya.

Masa Galau Sukses Terlewati

Masa kritis ekskusi terhadap Ismail AS dilaksanakan, dengan tenang dan  kepada Allah, Ismail menyarankan kepada bapaknya, agar bapaknya mengikat kedua tangannya supaya dia tidak meronta dan agar menutup  pula wajah Ismail untuk menghindari rasa tak tega, karena Ismail khawatir bapaknya  membatalkan perintah Allah SWT. Sambil memejamkan mata, Ibrahim menyembelih Ismail yang sudah pasrah dan penuh tawakkal kepada Allah. Ternyata Allah menggantikan sembelihan itu denga seekor  kibas yang sangat gemuk berisi dan cantik sekali. Dengan gembira lalu keduanya  menyungkur  bersyukur kepada Allah SWT, ternyata semua itu ujian belaka dari Allah SWT. Keluarga Ibrahim AS lulus dalam ujian berat ini.

Keluarga  Ibrahim AS adalah keluarga yang tercerahkan. Keluarga yang segenap aktivitasnya dilandasi oleh  aqidah yang kokoh yang tak tergoyahkan oleh kemilau kepentingan duniawi.

Manusia Tidak Boleh Dikurbankan

Ritual berkurban merupakan ritual ibadah yang paling tua dikenal manusia,sudah ada semenjak manusia diciptakan dan diturunkan ke permukaan bumi ini. Peristiwa  pembunuhan Habil oleh Qobil juga boleh jadi karena  ritual kurban yang salah satu kurban dari mereka berdua tidak diterima Allah SWT , kemudian muncul sifat  iri dan dengki, lalu terbunuhlah satu diantara mereka.

Pada zaman primitif dan agama- agama musyrik terdahulu, biasanya mereka berkurban ternak, buah- buahan, sayuran dan lain- lain untuk Tuhan mereka, bahkan ada agama yang mensyariatkan kurban manusia, seperti masyarakat di tepi sungai Nil, yang setiap tahun menjadikan gadis cantik untuk tumbal bagi Tuhan mereka, dengan menceburkan gadis tersebut ke sungai Nil hingga mati.

Dengan tergantikannya Ismail oleh domba, mengisyaratkan, bahwa manusia tidak halal untuk dikurbankan, meskipun agama para Nabiyullah sejak awal tidak pernah menghalalkannya. Yang pasti dengan alasan apapun manusia tidak boleh jadi kurban (korban). Demi kepentingan popularitas, demi kepentingan politik, jabatan, pangkat, harta,dll. Apa lagi demi kepentingan sesaat mengorbankan rakyat, mengorbankan hak masyarakat, itu semua kezaliman yang sangat besar dan tercela di hadapan Tuhan. Yang harus disembelih dan dikorbankan sebenarnya adalah sifat kebinatangan (nafsu hayawaniyah) yang melekat pada diri kita. Nafsu serakah, sombong, ingin berkuasa, tidak bersyukur, tidak mampu menghargai orang lain dan sifat buruk lainnya. Itu yang harus enyah dari kita. Jiwa binatang kita buang jauh, jiwa ketaqwaan lsmail yang kita warisi, lestarikan dan tanamkan secara mendalam dalam kalbu kita.

Berkurban Dengan Harta Terbaik

Betapa mulianya manusia diciptakan oleh Allah SWT, dikaruniai akal fikiran dan fisik yang bagus, sempurna dibanding makhluk Allah lainnya. Kesempurnaan ini menuntut pula kepada setiap kita, agar memberi dan berkorban dengan yang terbaik, sebagai salah satu wujud kesyukuran atas karunia kebagusan fisik ini. Allah telah menggantikan Ismail dengan kibas yang bagus, gemuk dan sangat menarik, bukan kibas yang sakit atau bercacat. Maka berikanlah yang terbaik dan yang paling kita cintai.

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS: Al Baqarah :267)

Berkurban  dengan harta yang terbaik adalah sunnahnya Nabi SAW, memberi dengan harta yang kita cintai adalah jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Bukan memberi justeru menyusahkan si penerima. Misalnya ; bersedekah dengan barang  yang sudah tak layak pakai, si penerima merasa kesulitan dengan barang tersebut, dipakai sudah usang dan kurang pantas, tidak dipakai terkesan tidak mampu berterimakasih kepada si pemberi.

“ Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya “ (QS; Ali Imran : 92).

Berkurban, Mengalahkan  Rasa Takut

Salah satu esensi berkorban adalah membuang rasa takut, rasa khawatir yang menguasai jiwa, Ibrahim AS yang begitu lama mendambakan seorang anak, lalu dikaruniai anak oleh Allah dan anak tersebut demi kepentingan da’wahnya selalu ditinggal tinggalnya, lalu ketika anak yang disayanginya itu menjelang lincah- lincah dan lucunya, harus dipisahkan dari dirinya dengan disembelih. Beliau sangat khawatir dan takut sekali kehilangan anak tersebut, tapi demi kedekatannya kepada Robbnya beliau harus mengalahkan rasa takut dan khawatir itu semua. Sebab berdamai dengan Allah akan mengalahkan rasa takut dan kekhawatiran pada diri seseorang. Berdekat dengan Allah menjadi pribadi yang nyaman selamanya.

Rasa takut merupakan fitrah manusia, takut miskin, takut mati, takut gagal dalam sesuatu pekerjaan, takut kehilangan jabatan, kehilangan pangkat, kehilangan popularitas dan segudang rasa takut lainnya. Rasa takut adalah sunatullah, namun ketakutan yang berlebihan menjadikan seseorang kehilangan rasionalitas dan logika.

Dengan berkurban, mari kita kalahkan rasa takut itu menjadi rasa optimis bersama Allah SWT. Menjadi pribadi unggul dalam bertaqarub kepadaNya, merelakan pemberian yang dimiliki untuk mencari ridha Allah SWT.

Berkurban bukan sekedar bagi- bagi daging kepada sesame, jauh dari itu berkurban merupakan jalan menapaktilasi ajaran Ibrahim AS dalam memenuhi perintah Allah SWT yang muaranya adalah salah satu wujud cinta sesame dan mencari ridhaNya.

Dalam perjalanan hidup manusia, sangat dibutuhkan pengorbanan, bahkan sejak dalam kandungan, anak manusia sudah menerima pengorbanan. Ketika jutaan sel sperma saling berkejaran untuk mencapai ovum, jika salah satu sel sperma telah mendapatkannya, maka jutaan sel yang lain harus rela berkurban diri untuk  mati demi kita- kita ini. Jutaan sel saudara- saudara kita harus mati demi kehidupan kita. Maka sudah seharusnya kita tidak akan berani lagi mengorbankan manusia lain demi kehidupan kita setelah terlahir di dunia ini. Tapi juteru kitalah yang harus berani berkorban. Korban harta, fikiran, perasaan bahkan bila perlu korban jiwa demi tegaknya nilai- nilai kemanusiaan dan kebenaran.

Bangsa dan Negara ini juga membutuhkan pengorbanan, para pahlawan telah mengorbankan yang mereka miliki, harta, darah, keluarga bahkan jiwa mereka sendiri, demi tegaknya marwah bangsa di kancah dunia. Wujudnya adalah kita dapat berdiri tegak dan memiliki harkat yang mulia dengan kemerdekaan sumbangsih pendahulu kita.

Di era serba digital saat ini, ketika manusia bersikap egocentris dan hilangnya rasa kepedulian dan kebersamaan, maka menjadi manusia yang rela berkorban merupakan peristiwa langka yang sangat membutuhkan keberanian yang heroik. Lalu kalau kita belum juga berani mengambil peran itu hari ini, maka siapa dan kapan perjuangan akan terwujud?

Semoga di Hari Raya Idhul Qurban tahun ini, kita mampu merajut kebersamaan dalam meniti untaian hari- hari dibingkai ridha Ilahi. Semoga (Asmen,S.Pd.,MM : Sekretaris PR Muhammadiyah Dolok Maraja, Tapian Dolok, Simalungun)

 

 

 

 

Tags: ibrahimismailqurban
Share42Tweet27SendShare
ADVERTISEMENT

Berita Terkait

Inspirasi

HPSI Gelar Sosialisasi Partuturan dan Pakaian Adat Simalungun kepada Siswa SMA GKPS Pamatang Raya Simalungun, Aloling Simalungun Harungguan Purba Simalungun Indonesia (HPSI) merasa terpanggil dan bertanggung jawab dalam mensosialisakan adat dan budaya simalungun kepada generasi penerus bangsa yang merupakan garda terdepan dalam melestarikan adat dan budaya. Bertempat di Gedung Aula SMA GKPS Pamatang Raya pada hari Jumat, 8 Mei 2026 acara tersebut dibuka langsung oleh Ketua Umum HPSI bapak Mangapul Purba, S.E,M.I.Kom yang juga ketua fraksi PDIP DPRD Sumatera Utara telah berlangsung dengan baik.Dalam sambutannya beliau menyatakan bahwa peradaban bangsa Indonesia tidak terlepas dari Kebudayaan Daerah, kebudayaan menjadi salah satu factor utama dalam pembangunan nasional Peserta sosialisasi terdiri dari Siswa dan Guru SMA GKPS Pematang Raya dibawah kepemimpinan Kepala Sekolah, Julven Purba, S.Pd, dalam sambutannya beliau sangat berterimakasih atas kegiatan ini sehingga dengan kegiatan ini kami semakin memahami bagaimana adat budaya Simalungun itu dilaksanakan pada kehidupan sehari-hari khusunya tentang partuturan Adat Budaya Simalungun yang setiap hari baik dilingkungan keluarga, lingkungan sekolah selalu diterapkan, tata karma bagi kami terkhusus siswa dapat diterapkan sebagaimana lazimnya pada budaya simalungun, demikin juga tentang pemakaian adat dan budaya Simalungun. Diawal acara dilaksanakan acara pangalo-aloan kepada Rombongan HPSI dengan tortor Simalungun yang ditampilkan oleh Siswa SMA GKPS, dilanjutkan dengan ibadah, kemudian acara nasional menyanyikan lagu Indonesia Raya dan acara Sosilasisasi. Rohdian Purba, S,Si,M.Si selaku Sekretaris DPP HPSI yang juga menjadi narasumber dengan Materi Partuturan Adat Budaya Simalungun menjelaskan bahwa pada saat sekarang ini anak-anak milenial sudah banyak tidak memahami tentang partuturan dalam adat budaya simalungun, sekarang ini akibat ketidak pahaman mereka maka banyhak bersalahan pada panggilan terhadap sesama, orangtua dan kerabat keluarga lainnya, bilama mana tidak kita tanamkan, sosialisasikan partuturan simalungun dimaksud dikwatirkan 10 sampai 20 tahun kedepan maka akan tergerus bahkan hilang sehingga berakibatkan hubungan kekerabatan yang baik selama ini akan menjadi masalah yang sangat besar, mengapa misalnya panggilan makela dalam adat simalungun saat ini sudah sering didengar oleh anak nak bukan lagi makela tapi sudah dipanggil kel, panggilang tulang sudah sering kita dengar disapa oleh anak-anak menjadi tul, ini sangat menyalaha, mengapa terjadi hal demikian karena anak-anak tidak memahami sebenarnya bagiamana peran serta Sananina, Tondong dan Boru dalam peradaban adat dan Budaya Simalungun. Bahkan dalam pergaulan sehari hari antara anak-anak kuda yang berajnak dewasa bisa mengkwatirkan dalam menuju jenjang perkawinan dimasa-masa berpacaran, karena dalam adat budaya simalungun walaupun marga berbeda tidak serta merta bisa menikah/kawan misalnya; borunya namboru kita (anak perempuan dari saudara perempuan bapak) itu tidak bisa kita nikahi. Tapi borunya (anak perempuan) dari tulang kita itu bisa dinikahi yang disebut marboru tulang, atau disebut pariban. Demikian jika ibu kita memilki saudara kandung perempuan dan memilki anak perempuan (boru), kita sebagai laki-laki juga tidak bisa menikahinya, hal-hal yang seperti ini juga perlu kita ajarkan kepada generasi milenial sekarang ,apalagi mereka setelah tammat dari Sekolah akan banyak pergi merantau jauh dari orang tua, dengan tidak memahami hal dimaksud diperantauan bisa berakibat tidak baik dalam peradaban budaya simalungun nantinya, dan banyak hal lagi akibatnya jika partururan dalam budaya Simalungun tidak mereka pahami, hal ini yang perlu sejak dini kita samapaikan buat anak-anak. Demikian juga tentang pakaian adat budaya simalungun yang disamapaikan bapak Djapaten Purba, BME bahwa sejak dini perlu ditanamkan kepada anak-anak milenial, karena pada saat ini sudah banyak kita lihat ditengah-tengah masyarakat dalam acara adat budaya simalungun baik suka maupu n duka sudah tidak sesuai lagi dengan sebenarnya, menurut beliau semua pemakaian hiou simalungun itu memiliki arti dan makna khsusus bagi kehidupan sehar-hari, baik itu gotong, bulang suri-suri, ragi cantik dll termasuk tata cara pemakaiannya misalnya jika seorang bapak memakai suri-suri itu berwarna hitam namu jika perempuan memakai suri-suri bisa warna bebas, demikain juga jika sudah memakai gotong, maka wajib memakai suri-suri dan abit/ragi panei atau ragi cantik untuk laki-laki demikian juga perempuan/ inang jika sudah memakai bulang, wajib memakai suri-suri dan abit. Diakhir acara siswa dan guru SMA GKPS Pamatang Raya sangat mengapresiasi kegiatan sosialisasi ini karena mereka lebih memahami tentang adat budaya simalungun yang bisa mereka terapkan pada kehidupan sehar-hari baik dilingkungan sekolah, keluarga dan kekerabatan dalam lingkungan keluarga mereka, yang diakhiri dengan pemberian cendramata oleh kepala sekolah kepada Ketua Umum HPSI dan kedua narasumber. (rel)

by Redaksi
9 Mei 2026 | 14:54 WIB
0

Simalungun, Aloling Simalungun Harungguan Purba Simalungun Indonesia (HPSI) merasa terpanggil dan bertanggung jawab dalam mensosialisakan adat dan budaya simalungun kepada...

Read more
Inspirasi

Rohdian Purba : “Kemajuan USI Melekat Keinginan Hati untuk Memajukannya”

by Redaksi
8 Mei 2026 | 16:37 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Terkait untuk memajukan Yayasan Universitas Simalungun diutamakan adanya keinginan hati untuk bekerja maksimal dalam memajukan sekolah dan...

Read more
Inspirasi

Hari Pendidikan Nasional 2026 di SMA Negeri 1 Pematangsiantar,  August Sinaga Tekankan Peningkatan Kualitas Di Dalam Kelas

by Redaksi
2 Mei 2026 | 10:47 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Provinsi Sumatera Utara (Siantar-Simalungun) Hardiknas tidak hanya sekadar ajang seremonial, tetapi...

Read more
Inspirasi

Bedah Buku Diutus Melintasi Batas, Biografi Marie Claire Barth Frommel

by Redaksi
22 April 2026 | 08:45 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun GMKI Siantar-Simalungun dan STT HKBP P.Siantar menggelar acara Bedah Buku Diutus Melintasi Batas, Biografi Marie Claire Barth...

Read more

Discussion about this post

Berita Terbaru

Nasional

ABPEDNAS Cetak Sejarah, Raih 100 Ribu Anggota Bertepatan Hari Lahir Pancasila 2026

2 Juni 2026 | 19:24 WIB
Entertainment

Parsadaan Purba Pakpak Boru Panogolan (P3BP) Gelar Rakernas di Siantar  

1 Juni 2026 | 20:17 WIB
Siantar - Simalungun

ASN Pemkab Simalungun Melaksanakan Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026: Refleksi Memastikan Pancasila Tetap Menyala

1 Juni 2026 | 20:09 WIB
Entertainment

Erik Tarigan : Anak Siantar Abetnego Tarigan Sangat Perduli dengan Siantar – Simalungun 

1 Juni 2026 | 10:35 WIB
Regional

Pemko Tebing Tinggi Raih Opini WTP Delapan Kali Berturut-Turut, Walikota: Jadikan Motivasi Pembangunan Kota yang Lebih Baik 

29 Mei 2026 | 18:50 WIB
Entertainment

Anak Siantar David Sotar Karter Pardosi Pengusaha Muda  yang Merambah Hingga ke Luar Pulau Sumatera 

28 Mei 2026 | 18:57 WIB
Siantar - Simalungun

Penyembelihan Hewan Qurban Warga Lingkungan III Kelurahan Simarito Berjalan Lancar

28 Mei 2026 | 09:28 WIB
Entertainment

Pengurus Lokal Badan Kerjasama PGI-GMKI Pematang Siantar-Simalungun Periode 2026-2031 Resmi Dilantik

25 Mei 2026 | 20:53 WIB
Siantar - Simalungun

Terima Kunjungan Pemkab Aceh Utara, Pemkab Simalungun Bantu Penanganan Bencana

25 Mei 2026 | 17:37 WIB
Regional

Perkuat Pelayanan Publik Berbasis Digital, Pemko Tebing Tinggi dan Pemko Tanjung Balai Jalin Kerjasama Strategis

22 Mei 2026 | 20:06 WIB
Siantar - Simalungun

Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Simalungun: Posyandu Sudah Bertransformasi Pelayanan 6 Siklus Hidup

22 Mei 2026 | 17:05 WIB
Regional

Perkuat Pelayanan Publik Berbasis Digital Pemko Tebing Tinggi dan Pemko Tanjung Balai Jalin Kerja Sama Strategis

22 Mei 2026 | 16:18 WIB
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun