Aloling Simalungun
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman
Kamis, 2 Juli 2026
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
No Result
View All Result
Aloling Simalungun
No Result
View All Result
  • SMSI
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
Home Inspirasi

Paheian (Busana) Adat Simalungun

Oleh : Lensudin Sumbayak, SE

by Redaksi
31 Agustus 2020 | 15:32 WIB
in Inspirasi
A A
Konsep Otomatis
ADVERTISEMENT
25.7k
SHARES
32.1k
VIEWS

PAKAIAN adat yaitu semua kelengkapan yang dipakai oleh seseorang yang menunjukkan            cirikhas kebudayaan suatu masyarakat.       Dengan                melihat pakaian seseorang, kita akan mengatakan bahwa orang tersebut dari daerah tertentu dan ini akan lebih jelas bila ada pawai Bhinneka Tunggal Ika. Jadi, pakaian adat mewakili masyarakat dan adat suatu daerah, membedakannya dengan adat daerah lain.

Pakaian adat biasanya dikenakan pada upacara-upacara adat, pesta, maupun dukacita.

Ada beberapa macam pesta yang dilaksanakan menurut adat Simalungun. Pesta adat yang paling berharga adalah pesta adat perkawinan anak (paompohon/paunjuk anak) maupun perkawinan anak perempuan (palaho boru), dan acara adat sayur matua. Pada ketiga macam pesta adat ini, warga Simalungun memakai pakaian adat yang berbeda.

Jenis Pakaian Adat Simalungun

A.Yang dipakai kaum ibu (Inang)

* Bulang, yaitu pakaian yang dipakai di kepala, semacam penutup atau tudung yang dibuat dari hasil tenunan khas Simalungun yang berarti “keibuan”.

Jenis-jenis bulang:

1.1.Bulang Sulappei = Bulang adat / bulang pesta

1.2.Bulang Teget = Bulang untuk pengantin

1.3.Bulang Suyuk / Gijang = Bulang pesta adat / usia tua

1.4.Bulang Hurbu / Salalu = Bulang harian / hu juma (ke ladang).

Kain penutup kepala ini berwarna merah tua/hati. Garis tengahnya memiliki tiga garis memanjang berwarna putih kelabu dengan bagian penutup berwarna putih kelabu, penuh bentuk simetris sebagai ragam hias. Pada ujung luarnya, kain ini memiliki jumbai panjang yang memberikan kesan dominan. Kain ini dikenakan oleh wanita yang sudah menikah dan hanya dibuat di Simalungun.

Pakaian Adat Simalungun Lengkap

Pada saat ini, bulang dipakai:

a.Pada pesta adat sukacita

b.Pada acara patappei sihilap (penobatan)

c.Sebagai siluah (souvenir) kehormatan

d.Ketika ada yang marujung goluh na sayur matua.

* Suri-suri, yaitu sejenis  hiou  hasil  tenunan Simalungun yang mengandung makna adanya rasa tanggung jawab. Suri-suri ini dipakai sebagai hiou hadang-hadangan atau selendang yang disandang pada bahu sebelah kanan. Warna hitam (sibirong) dipakai kaum bapak dan warna lainnya (selain warna hitam) dipakai oleh kaum ibu.

* Hiou, merupakan hasil tenunan Simalungun yang dipakai sebagai penutup badan, yang mengandung makna/arti supaya tetap sehat jasmani dan rohani.

Jenis-jenis hiou Simalungun, antara lain:

*Hiou Ragi Tinabur

*Hiou Nanggar Suasah

*Hiou Ragi Panei

*Hiou Ragi Sapot

*Hiou Ragi Siattar

*Hiou Ragi Santik

*Hiou Hatirongga

*Hiou Tapak Catur

*Hiou Bintang Maratur

*Hiou Simangkat-angkat

*Hiou Batu Jala

*Hiou Tappunei

*Hiou Ipput ni Hirik

* Baju soja, yaitu baju yang dibuat dari kain warna hitam, pakai lengan dan leher rendah. Pada bagian belakang dibuat hiasan, pada lengan bagian ujung disulam menggunakan benang warna merah juga sebagai hiasan.

* Pelengkap

*Rudang Hapias, sejenis hiasan yang terbuat dari emas berbentuk daun, disusun mirip bunga matahari, diselipkan pada sanggul rambut kaum ibu.

*Rudang Jambulan, yaitu sejenis hiasan terbuat dari emas atau perak dan sering dipakai pada pengantin perempuan.

*Hudung-hudung, yaitu sejenis hiasan terbuat dari emas, dipakai di telinga sebelah kanan dan kiri, tempat gantungannya berbentuk bulat/ lingkaran yang terbuat dari emas atau suasah yang sering disebut pula “Sutting”.

*Panjettar, yaitu hiasan yang dipakai di kepala yang terbuat dari emas atau perak berbentuk bunga-bungaan dan diselipkan pada rambut.

*Golang (gelang)

*Sinokkok (kalung)

*Gondit (sabuk, ikat pinggang)

*Purih-purih

*Tintin (cincin)

*Bajut

*Puei.

B.Yang dipakai kaum bapak (Bapa)

* Gotong, yaitu semacam tudung yang  dipakai  di  kepala bapak yang melambangkan pemimpin / kedewasaan.

Jenis-jenis gotong:

*Gotong salalu  = Gotong harian = gotong yang dipakai ke ladang

*Gotong Pandihar= Dipakai penari pencak

silat untuk menyambut tamu kehormatan

*Gotong sapari /aslini    = Dipakai ke pesta

*Gotong Tikkal  = Dipakai ke pesta

*Gotong Potik   = Dipakai pengantin (pria).

Pada masa kini, gotong sering dipakai untuk:

a.Acara pesta adat / sukacita

b.Acara patappei sihilap

c.Siluah kehormatan

d.Acara  adat  bagi  yang  meninggal  pada  usia tua (sayur matua).

Perlengkapan untuk pemakaian gotong: Pasomin. Pasomin adalah sejenis kopiah/peci, bentuknya bulat, dan terbuat dari benang emas atau perak. Saat ini, sudah  jarang dipakai sebagai bagian dari pakaian adat Simalungun. Dahulu, hanya raja dan partuanon yang memakainya pada pertemuan-pertemuan.

* Baju / kemeja

  • Baju Raja : Warna hitam (sibirong)
  • Baju Toluk Balanga : Warna hitam (sibirong), tapi sekarang ini sudah ada yang membuatnya dengan warna lain selain hitam.
  • Baju Pinolang-polang :Warna putih, merah, hitam (baju pandihar)
  • Baju Siholat : Warna merah (baju guru/datu)
  • Baju Banggal :Jas.

* Suri – suri sibirong

* Hiou = Ragi Panei, Ragi Santik, dan hiou sarung

* Tambahan:

  • Pisou Suhul Gading, yaitu semacam keris yang selalu dipakai raja / pemangku adat
  • Pisou badik, yaitu      selalu    dipakai  untuk pertahanan diri
  • Pisou Ualli, yaitu selalu dipakai bila hendak mengobati / datu
  • Golang (gelang)
  • Ponding (ikat pinggang).
  • Tintin (cincin).

Pakaian untuk Pengantin Pria

1.Gotong

  • Dililit di kepala sehingga sudutnya berbentuk kerucut berada di bagian depan (Gotong Potik).
  • Rattei Gotong (Sambolah Pagar) dililitkan melingkari gotong, diatur sedemikian rupa agar taringnya (sait) tergantung di sebelah kanan di bawah telinga si pemakai.
  • Doramani dipilin dengan sudut kain gotong, tersangkut di sebelah kiri di bagian bawah telinga pemakai. Jumlah doramani terdiri atas: 1,3,5, dan 7 buah.
  • Rudang Hapias disisipkan/diselipkan pada gotong di bagian sebelah kiri pemakai, di bagian atas telinga.

2.Hiou

  • Ragi Panei, Ragi Santik, dan ada juga yang memakai hiou sarung
  • Hiou pada kedua sisi bidang lebarnya, diberi rambu-rambu + 10 cm.
  • Hiou dipakai menutup tubuh pada batas pinggang sampai pada mata kaki.
  • Hiou dililitkan melingkari tubuh, diatur sedemikian rupa sehingga rambu-rambunya kelihatan di bagian depan, menghadap ke kiri si pemakai, mulai dari batas pinggang sampai ke mata kaki.
  • Pangkal hiou pada batas pinggang, dilingkari dengan ikat pinggang (Ponding)
  • Pisou Suhul Gading diselipkan pada pinggang sebelah kiri.
  1. Suri-suri sibirong

Diletakkan tersangkut pada bahu (disandang) sebelah kanan, setelah suri-suri dilipat 4 (empat) pada “bidang lebar” suri-suri. Panjang suri-suri yang kelihatan terjurai di bagian depan sama dengan panjangnya di bagian punggung.

Pakaian untuk Pengantin Wanita

Bulang

* Digunakan dalam bentuk Bulang Sulappei. Sesuai hasil seminar, untuk membedakan bulang yang digunakan pengantin perempuan dengan yang dikenakan hasuhuton (tuan rumah [mertua/ibunya]), maka bulang pengantin adalah Bulang Sulappei (sedapat mungkin dengan warna merah) sedangkan hasuhuton adalah Bulang Gijang atau Bulang Sulappei dengan warna asli Simalungun (merah hati/kecoklat- an)

*Rudang Hapias diselipkan pada tusuk sanggul.

* Hudung-hudung dipakai di telinga kiri dan kanan, disangkutkan pada sutting (berbentuk lingkaran). Sutting ditusukkan pada kedua daun telinga.

2 Hiou

* Segala jenis hiou dapat dipakai

* Hiou dipakai menutup pada batas pinggang sampai pada mata kaki.

* Hiou dililitkan melingkari tubuh, diatur sedemikian rupa sehingga rambu-rambunya kelihatan di bagian depan, menghadap ke kanan si pemakai.

* Bajut Hundul dikempit pada siku lengan kiri merapat pada pinggang sebelah kiri.

* Puei dipegang dengan telapak tangan kiri, diupayakan agar gagangnya kelihatan dari depan.

3.Suri-suri

Disandang pada bahu sebelah kanan, setelah dilipat 4 (empat) pada sisi bidang lebarnya. Panjang suri-suri  bagian depan sama dengan bagian yang ada di punggung (belakang).

Pakaian untuk Pandihar

1.Baju : Pandihar   menggunakan   baju   pinolang- polang berwarna putih, merah, hitam, atau baju toluk balanga.

2. Gotong : dililitkan  di  kepala,  dengan  bentuk  khusus yang disebut Gotong Pandihar

3. Hiou : digunakan  pada  batas  pinggang  sampai  di atas lutut

4. Suri-suri : disangkutkan di bahu kanan menyilang pada pinggang sebelah kiri, dengan mengikatkan kedua ujungnya.

Catatan :Apabila hiou tidak dipakai, suri-suri diikatkan di pinggang.

Sesuai hasil seminar, ada beberapa hal yang telah diputuskan, yakni sebagai berikut:

1.Pada upacara adat, anak gadis dan pemuda tidak berhak menggunakan pakaian adat, kecuali dalam rangka pergelaran, fashion show, atau perayaan.

2. Pada perkawinan beda budaya (adat), pengantin pria/wanita asal budaya lain bisa menggunakan pakaian adat Simalungun secara lengkap sepanjang hasuhuton-nya adalah orang Simalungun.

3.Pengenaan gotong kepada menantu laki-laki oleh orangtua pengantin perempuan (mertua) hanya sekadar pember- angkatan (paingkathon), karena orangtua pengantin perempuan tidak pernah manggotongi hela-nya dan mambulangi boru-nya.

4.Tidak ada beda bulang yang dikenakan inang na mabalu (janda) dengan bulang usia tua yakni bulang gijang, baik dianya mabalu sayur matua, mabalu matei matua, mabalu maupun matei matalpok, atau sebaliknya dalam pesta sukacita, sama saja.

5. Demikian juga halnya dengan bapa na mabalu (duda), tidak ada beda gotong-nya.

6.Pakaian adat Simalungun jangan dipakai sepotong- sepotong, melainkan harus selengkap mungkin.

7.Diputuskan bahwa gotong harus tetap menggunakan bahan batik (alih-alih hiou yang penggunaannya bukan untuk kepala, melainkan badan). Di masa datang, gotong dapat menggunakan batik bermotif Simalungun (seperti baju PNS Pemkab Simalungun belakangan ini).

8. Pemakaian pakaian adat, baik untuk laki-laki maupun terutama perempuan, seyogianya disosialisasikan juga kepada pengrajin dan pedagang hiou Simalungun, salon kecantikan (rias pengantin), dll. (dikutip dari Buku Esensi dan Relevansi Nilai-nilai Luhur Seni-Budaya Tradisional Simalungun dalam kehidupan modern yang diterbitkan DPP/Presidium Partuha Maujana Simalungun)

 

 

Tags: adatpaheansimalungun
Share10307Tweet6421SendShare
ADVERTISEMENT

Berita Terkait

Inspirasi

PUSTAKA NOMMENSEN: Kebakaran Pasar Dwikora Bukan Hanya Musibah, tetapi Alarm Tata Kelola

by Redaksi
25 Juni 2026 | 20:47 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Pusat Studi Kebijakan Publik dan Politik (PUSTAKA NOMMENSEN) Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar menilai kebakaran Pasar Dwikora harus...

Read more
Inspirasi

Dr.Sarmedi Purba SPOG Setuju Organisasi Adat Budaya dan Cendikiawan Simalungun Bersatu

by Redaksi
19 Juni 2026 | 09:29 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Pemangku Adat dan Cendekiawan Simalungun (DPP-PACS) Dr.Sarmedi Purba mengatakan Setuju agar Organisasi...

Read more
Inspirasi

Drs.Johalim Purba Berharap Organisasi Adat Budaya dan Cendikiawan Simalungun Bersatu 

by Redaksi
18 Juni 2026 | 11:33 WIB
0

Simalungun, Aloling Simalungun Organisasi Adat Budaya dan Cendikiawan Simalungun yang pada awalnya berada dalam satu wadah Partuha Maujana Simalungun diharapkan...

Read more
Inspirasi

HPSI Gelar Sosialisasi Partuturan dan Pakaian Adat Simalungun kepada Siswa SMA GKPS Pamatang Raya Simalungun, Aloling Simalungun Harungguan Purba Simalungun Indonesia (HPSI) merasa terpanggil dan bertanggung jawab dalam mensosialisakan adat dan budaya simalungun kepada generasi penerus bangsa yang merupakan garda terdepan dalam melestarikan adat dan budaya. Bertempat di Gedung Aula SMA GKPS Pamatang Raya pada hari Jumat, 8 Mei 2026 acara tersebut dibuka langsung oleh Ketua Umum HPSI bapak Mangapul Purba, S.E,M.I.Kom yang juga ketua fraksi PDIP DPRD Sumatera Utara telah berlangsung dengan baik.Dalam sambutannya beliau menyatakan bahwa peradaban bangsa Indonesia tidak terlepas dari Kebudayaan Daerah, kebudayaan menjadi salah satu factor utama dalam pembangunan nasional Peserta sosialisasi terdiri dari Siswa dan Guru SMA GKPS Pematang Raya dibawah kepemimpinan Kepala Sekolah, Julven Purba, S.Pd, dalam sambutannya beliau sangat berterimakasih atas kegiatan ini sehingga dengan kegiatan ini kami semakin memahami bagaimana adat budaya Simalungun itu dilaksanakan pada kehidupan sehari-hari khusunya tentang partuturan Adat Budaya Simalungun yang setiap hari baik dilingkungan keluarga, lingkungan sekolah selalu diterapkan, tata karma bagi kami terkhusus siswa dapat diterapkan sebagaimana lazimnya pada budaya simalungun, demikin juga tentang pemakaian adat dan budaya Simalungun. Diawal acara dilaksanakan acara pangalo-aloan kepada Rombongan HPSI dengan tortor Simalungun yang ditampilkan oleh Siswa SMA GKPS, dilanjutkan dengan ibadah, kemudian acara nasional menyanyikan lagu Indonesia Raya dan acara Sosilasisasi. Rohdian Purba, S,Si,M.Si selaku Sekretaris DPP HPSI yang juga menjadi narasumber dengan Materi Partuturan Adat Budaya Simalungun menjelaskan bahwa pada saat sekarang ini anak-anak milenial sudah banyak tidak memahami tentang partuturan dalam adat budaya simalungun, sekarang ini akibat ketidak pahaman mereka maka banyhak bersalahan pada panggilan terhadap sesama, orangtua dan kerabat keluarga lainnya, bilama mana tidak kita tanamkan, sosialisasikan partuturan simalungun dimaksud dikwatirkan 10 sampai 20 tahun kedepan maka akan tergerus bahkan hilang sehingga berakibatkan hubungan kekerabatan yang baik selama ini akan menjadi masalah yang sangat besar, mengapa misalnya panggilan makela dalam adat simalungun saat ini sudah sering didengar oleh anak nak bukan lagi makela tapi sudah dipanggil kel, panggilang tulang sudah sering kita dengar disapa oleh anak-anak menjadi tul, ini sangat menyalaha, mengapa terjadi hal demikian karena anak-anak tidak memahami sebenarnya bagiamana peran serta Sananina, Tondong dan Boru dalam peradaban adat dan Budaya Simalungun. Bahkan dalam pergaulan sehari hari antara anak-anak kuda yang berajnak dewasa bisa mengkwatirkan dalam menuju jenjang perkawinan dimasa-masa berpacaran, karena dalam adat budaya simalungun walaupun marga berbeda tidak serta merta bisa menikah/kawan misalnya; borunya namboru kita (anak perempuan dari saudara perempuan bapak) itu tidak bisa kita nikahi. Tapi borunya (anak perempuan) dari tulang kita itu bisa dinikahi yang disebut marboru tulang, atau disebut pariban. Demikian jika ibu kita memilki saudara kandung perempuan dan memilki anak perempuan (boru), kita sebagai laki-laki juga tidak bisa menikahinya, hal-hal yang seperti ini juga perlu kita ajarkan kepada generasi milenial sekarang ,apalagi mereka setelah tammat dari Sekolah akan banyak pergi merantau jauh dari orang tua, dengan tidak memahami hal dimaksud diperantauan bisa berakibat tidak baik dalam peradaban budaya simalungun nantinya, dan banyak hal lagi akibatnya jika partururan dalam budaya Simalungun tidak mereka pahami, hal ini yang perlu sejak dini kita samapaikan buat anak-anak. Demikian juga tentang pakaian adat budaya simalungun yang disamapaikan bapak Djapaten Purba, BME bahwa sejak dini perlu ditanamkan kepada anak-anak milenial, karena pada saat ini sudah banyak kita lihat ditengah-tengah masyarakat dalam acara adat budaya simalungun baik suka maupu n duka sudah tidak sesuai lagi dengan sebenarnya, menurut beliau semua pemakaian hiou simalungun itu memiliki arti dan makna khsusus bagi kehidupan sehar-hari, baik itu gotong, bulang suri-suri, ragi cantik dll termasuk tata cara pemakaiannya misalnya jika seorang bapak memakai suri-suri itu berwarna hitam namu jika perempuan memakai suri-suri bisa warna bebas, demikain juga jika sudah memakai gotong, maka wajib memakai suri-suri dan abit/ragi panei atau ragi cantik untuk laki-laki demikian juga perempuan/ inang jika sudah memakai bulang, wajib memakai suri-suri dan abit. Diakhir acara siswa dan guru SMA GKPS Pamatang Raya sangat mengapresiasi kegiatan sosialisasi ini karena mereka lebih memahami tentang adat budaya simalungun yang bisa mereka terapkan pada kehidupan sehar-hari baik dilingkungan sekolah, keluarga dan kekerabatan dalam lingkungan keluarga mereka, yang diakhiri dengan pemberian cendramata oleh kepala sekolah kepada Ketua Umum HPSI dan kedua narasumber. (rel)

by Redaksi
9 Mei 2026 | 14:54 WIB
0

Simalungun, Aloling Simalungun Harungguan Purba Simalungun Indonesia (HPSI) merasa terpanggil dan bertanggung jawab dalam mensosialisakan adat dan budaya simalungun kepada...

Read more

Discussion about this post

Berita Terbaru

Siantar - Simalungun

Bupati Simalungun Wujudkan Harapan Masyarakat: Ujung Padang Dapat Pembangunan Jalan Terbesar dalam Sejarah

27 Juni 2026 | 18:31 WIB
Siantar - Simalungun

Sekda Simalungun Buka Business Marching Kemitraan SPPG dan UMKM Pematang Siantar-Kabupaten Simalungun

26 Juni 2026 | 18:23 WIB
Inspirasi

PUSTAKA NOMMENSEN: Kebakaran Pasar Dwikora Bukan Hanya Musibah, tetapi Alarm Tata Kelola

25 Juni 2026 | 20:47 WIB
Siantar - Simalungun

Stand Terbaik Nasional, Kabupaten Simalungun Raih Juara I Lomba Stand PENAS XVII 2026 di Gorontalo

25 Juni 2026 | 20:32 WIB
Siantar - Simalungun

Bupati Simalungun Hadir di Nagori Pamatang Gajing: Pastikan Pelayanan Publik dan Pembangunan Menjangkau Hingga Nagori

25 Juni 2026 | 19:25 WIB
Regional

Buka Rakerda Kadin 2026, Wali Kota Tebing Tinggi Tekankan Kolaborasi Atasi Tantangan Ekonomi Daerah 

25 Juni 2026 | 18:07 WIB
Siantar - Simalungun

Kwarcab Gerakan Pramuka Simalungun Gelar Muscab 2026, Sekda: Gerakan Pramuka Harus Menjadi Benteng Pertahanan Moril

25 Juni 2026 | 17:20 WIB
Siantar - Simalungun

Sekda Simalungun Ajak Pelajar Mulai Menabung Sejak Dini

24 Juni 2026 | 18:12 WIB
Siantar - Simalungun

Bupati Simalungun Apresiasi Penguatan UMKM dan Ekonomi Kerakyatan di Acara Pembukaan Street Food Jilid 3 Kota Tua Gorontalo

22 Juni 2026 | 07:20 WIB
Siantar - Simalungun

PENAS XVII di Gorontalo, Bupati Simalungun: Momen Strategis Bagi Petani dan Nelayan Memperluas Wawasan

21 Juni 2026 | 08:40 WIB
Siantar - Simalungun

Tim Monitoring TP PKK Sumut Kunjungi 5 Nagori Percontohan di Simalungun

20 Juni 2026 | 07:16 WIB
Siantar - Simalungun

Hadiri PENAS Petani Nelayan XVII Tahun 2026, Bupati Simalungun Disambut Gubernur Gorontalo.

20 Juni 2026 | 06:15 WIB
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun