Aloling Simalungun
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman
Rabu, 8 Juli 2026
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
No Result
View All Result
Aloling Simalungun
No Result
View All Result
  • SMSI
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi
Home Inspirasi

Siantar Ku, Siantar Mu, Siantar Kita…

Catatan: Imran Nasution

by Redaksi
28 Februari 2022 | 09:32 WIB
in Inspirasi
A A
Konsep Otomatis
ADVERTISEMENT
161
SHARES
201
VIEWS

SEBAGAI kota terbesar di Sumatera Utara setelah Medan, Siantar punya banyak karakter khas yang tidak dimiliki daerah lain. Pastinya, ada Sangnaualuh Damanik, Raja Siantar sang penentang kolonial meski akhirnya diasingkan ke Bengkalis dan wafat di tanah Melayu itu.

Ada Adam Malik yang dalam buku “Si Bung dari Siantar”, mantan Wakil Presiden RI itu punya slogan “semua bisa diatur”. Kemudian, ada Cornel Simanjuntak, pencipta lagu nasional ”Teguhku Berlapis Baja” dan “Maju Tak Gentar”.

Selanjutnya, setelah tembok tebal Orde Baru rubuh diterjang badai reformasi dan terlepas dari plus maupun minus, sejumlah Wali Kota Siantar pernah saling bergantian menginap di hotel prodeo karena tersandung kasus korupsi.

Siantar dulu dan kini memang berbeda. Tapi, seperti yang tetap sama atau tidak berubah sebagai karakter paling khas adalah suara anak Siantar (Siantarman) kalau bicara, selalu jelas, tegas dan tak segan tekan gas. Apalagi kalau bicara politik, mayoritas orang Siantar tak ubahnya bagai politisi atau politikus.

Kalau politisi lokal yang duduk di jajaran kursi legislatif, jumlahnya jelas terbatas. Tapi, politisi lokal yang duduk di bangku warung atau kedai kopi maupun cafe, jumlahnya tak terbatas. Apalagi warung atau kedai kopi begitu mudah ditemukan di berbagai lokasi.

Politisi lokal di warung-warung kopi itu, selalu saja mengetahui kalau ada jarum jatuh di lingkungan eksikutif dan legislatif. Lantas, meluncur mulus berbagai pendapat mengitari opini publik. Meski pendapat apalagi pendapatan berbeda, tetap dapat akrab duduk di warung kopi sambil minum kopi atau teh manis bersama.

Terlepas dari mana, siapa dan apa suku maupun agama politisi lokal itu, rasa cinta dan bangga anak Siantar kepada tanah “Sapangambei Manokktok Hitei”, tak perlu ditawar-tawar seperti menawar cabe yang harganya selalu naik turun. Hanya saja, cara mengungkap rasa berbeda-beda dan itu adalah cerminan demokrasi yang indah dibanding kalau hanya satu warna.

Ada mengungkapkan kecintaan kepada Siantar dengan rasa pedas bagai cabe yang harganya selalu naik turun itu. Tidak sedikit mengungkapkan dengan rasa pahit bagai kopi tanpa gula. Ada malah mengungkap rasa bagai teh manis hangat. Dan, ada mengungkap rasa bagai belimbing yang asam atau ada juga hambar karena tiada rasa.

Menurut temannya temanku yang tergolong politikus lokal, mengkritik silahkan meski tidak memberi solusi karena untuk mencari solusi itu adalah kerjaan Plt Wali Kota bersama para pejabat yang digaji pakai uang rakyat. Termasuk uang rakyat kelas sandal jepit.

Temannya temanku juga bilang, saat mengkritik jangan pakai kaca mata kuda atau pakai kaca mata bolong apalagi pakai kaca mata hitam pada malam hari saat lampu listrik padam. Bahkan, jangan sekali-kali apalagi berkali-kali mengkritik dengan tendensius kalau yang diketahui sangat terbatas. Sehingga, hanya katak dalam tempurung yang bisa menilainya baik.

Kata temannya temanku lagi, mengkritik bukan karena suka atau tidak suka. Tapi, jujurlah mengkritik demi Siantar ku, Siantar mu dan Siantar kita agar lebih baik dari sebelumnya meski menyelesaikan sejumlah “warisan” masalah, tidak semudah mengkedipkan kelopak mata.

JANGAN BERTANYA

Sejatinya, jangan bertanya mengapa hasil Pilkada 2020 lalu yang duduk menjabat adalah Susanti Dewayani. Sebab, itu adalah konstitusi dan perempuan pertama yang memimpin Siantar itu punya garis tangan. Sedangkan garis tangan berbeda dengan garis lukisan di atas kertas menggunakan pensil yang mudah dihapus pakai setip atau penghapus.

“Kalau kita bertanya mengapa dan mengapa, jawabannya malah menimbulkan tanya-tanya yang semakin sukar untuk dijawab,” ujar temannya temanku itu saat duduk di atas batu tepi sungai Bah Bolon yang kalau hujan di hulu, airnya berubah seperti kopi susu.

Untuk memajukan Siantar ku, Siantar mu dan Siantar, Plt Wali Kota sebagai eksikutor tentu tidak berjalan sendiri. Ada legislator atau anggota dewan mengawasi sebagai lembaga politik yang duduk dijajaran kursi legislatif hasil pilihan rakyat.

Kesejajaran antar eksikutif dengan legislatif itu sesuai undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Karena, keduanya memiliki kedudukan yang sama sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah, berdiri harus sejajar dan sama tinggi, duduk juga setara atau sama rendah.

Untuk itu, temannya temanku mengingatkan, meski DPRD punya bedil yang disebut hak interpelasi, angket, dan menyatakan pendapat, jangan todongkan “bedil” itu untuk menjalin kemesraan yang dipaksa. Setelah itu, malah bernyanyi lagu kemesraan agar tidak cepat berlalu. Karena, kemesraan dapat membuat eksikutor dan legislator “berselingkuh”.

Perselingkuhan antar eksikutor dan legislator akan melahirkan “anak haram” yang dianalogikan sebagai kebijakan merugikan rakyat. Sedangkan jabatan atau kekuasaan adalah amanah yang punya batas waktu.

Ketika batas waktu tiba dan jabatan berakhir, libido politik untuk kembali berkuasa harus dikendalikan. Karena, rakyat yang semakin cerdas belum tentu mendukung. Apalagi tiada kemajuan terukur yang bermanfaat untuk Siantarku, Siantar mu dan Siantar kita.

Kalau Siantarku, Siantar mu dan Siantar kita tertinggal dibanding kota atau daerah lain. untuk mengejar ketertinggal itu, Wali Kota memang harus tancap gas. Tapi, harus pintar mengatur kecepatan karena jalan yang dilalui tidak selalu rata. Bahkan berlumpur dan penuh lobang yang menjebak.

Sekarang, Siantarku, Siantarmu dan Siantar kita membutuhkan tangan-tangan berjari jemari terampil untuk bekerja mewujudkan kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Tapi, terlepas dari suka atau tidak suka, pesimis atau optimis, terlalu prematur menilai Susanti Dewayani mampu atau tidak mengejar ketertinggal Siantar dengan kota atau daerah lain itu.

Yang jelas, inilah Siantarku, Siantarmu dan Siantar kita! (*)

Tags: kotakitakotakusiantar
Share64Tweet40SendShare
ADVERTISEMENT

Berita Terkait

Inspirasi

PUSTAKA NOMMENSEN: Kebakaran Pasar Dwikora Bukan Hanya Musibah, tetapi Alarm Tata Kelola

by Redaksi
25 Juni 2026 | 20:47 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Pusat Studi Kebijakan Publik dan Politik (PUSTAKA NOMMENSEN) Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar menilai kebakaran Pasar Dwikora harus...

Read more
Inspirasi

Dr.Sarmedi Purba SPOG Setuju Organisasi Adat Budaya dan Cendikiawan Simalungun Bersatu

by Redaksi
19 Juni 2026 | 09:29 WIB
0

P.Siantar, Aloling Simalungun Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Pemangku Adat dan Cendekiawan Simalungun (DPP-PACS) Dr.Sarmedi Purba mengatakan Setuju agar Organisasi...

Read more
Inspirasi

Drs.Johalim Purba Berharap Organisasi Adat Budaya dan Cendikiawan Simalungun Bersatu 

by Redaksi
18 Juni 2026 | 11:33 WIB
0

Simalungun, Aloling Simalungun Organisasi Adat Budaya dan Cendikiawan Simalungun yang pada awalnya berada dalam satu wadah Partuha Maujana Simalungun diharapkan...

Read more
Inspirasi

HPSI Gelar Sosialisasi Partuturan dan Pakaian Adat Simalungun kepada Siswa SMA GKPS Pamatang Raya Simalungun, Aloling Simalungun Harungguan Purba Simalungun Indonesia (HPSI) merasa terpanggil dan bertanggung jawab dalam mensosialisakan adat dan budaya simalungun kepada generasi penerus bangsa yang merupakan garda terdepan dalam melestarikan adat dan budaya. Bertempat di Gedung Aula SMA GKPS Pamatang Raya pada hari Jumat, 8 Mei 2026 acara tersebut dibuka langsung oleh Ketua Umum HPSI bapak Mangapul Purba, S.E,M.I.Kom yang juga ketua fraksi PDIP DPRD Sumatera Utara telah berlangsung dengan baik.Dalam sambutannya beliau menyatakan bahwa peradaban bangsa Indonesia tidak terlepas dari Kebudayaan Daerah, kebudayaan menjadi salah satu factor utama dalam pembangunan nasional Peserta sosialisasi terdiri dari Siswa dan Guru SMA GKPS Pematang Raya dibawah kepemimpinan Kepala Sekolah, Julven Purba, S.Pd, dalam sambutannya beliau sangat berterimakasih atas kegiatan ini sehingga dengan kegiatan ini kami semakin memahami bagaimana adat budaya Simalungun itu dilaksanakan pada kehidupan sehari-hari khusunya tentang partuturan Adat Budaya Simalungun yang setiap hari baik dilingkungan keluarga, lingkungan sekolah selalu diterapkan, tata karma bagi kami terkhusus siswa dapat diterapkan sebagaimana lazimnya pada budaya simalungun, demikin juga tentang pemakaian adat dan budaya Simalungun. Diawal acara dilaksanakan acara pangalo-aloan kepada Rombongan HPSI dengan tortor Simalungun yang ditampilkan oleh Siswa SMA GKPS, dilanjutkan dengan ibadah, kemudian acara nasional menyanyikan lagu Indonesia Raya dan acara Sosilasisasi. Rohdian Purba, S,Si,M.Si selaku Sekretaris DPP HPSI yang juga menjadi narasumber dengan Materi Partuturan Adat Budaya Simalungun menjelaskan bahwa pada saat sekarang ini anak-anak milenial sudah banyak tidak memahami tentang partuturan dalam adat budaya simalungun, sekarang ini akibat ketidak pahaman mereka maka banyhak bersalahan pada panggilan terhadap sesama, orangtua dan kerabat keluarga lainnya, bilama mana tidak kita tanamkan, sosialisasikan partuturan simalungun dimaksud dikwatirkan 10 sampai 20 tahun kedepan maka akan tergerus bahkan hilang sehingga berakibatkan hubungan kekerabatan yang baik selama ini akan menjadi masalah yang sangat besar, mengapa misalnya panggilan makela dalam adat simalungun saat ini sudah sering didengar oleh anak nak bukan lagi makela tapi sudah dipanggil kel, panggilang tulang sudah sering kita dengar disapa oleh anak-anak menjadi tul, ini sangat menyalaha, mengapa terjadi hal demikian karena anak-anak tidak memahami sebenarnya bagiamana peran serta Sananina, Tondong dan Boru dalam peradaban adat dan Budaya Simalungun. Bahkan dalam pergaulan sehari hari antara anak-anak kuda yang berajnak dewasa bisa mengkwatirkan dalam menuju jenjang perkawinan dimasa-masa berpacaran, karena dalam adat budaya simalungun walaupun marga berbeda tidak serta merta bisa menikah/kawan misalnya; borunya namboru kita (anak perempuan dari saudara perempuan bapak) itu tidak bisa kita nikahi. Tapi borunya (anak perempuan) dari tulang kita itu bisa dinikahi yang disebut marboru tulang, atau disebut pariban. Demikian jika ibu kita memilki saudara kandung perempuan dan memilki anak perempuan (boru), kita sebagai laki-laki juga tidak bisa menikahinya, hal-hal yang seperti ini juga perlu kita ajarkan kepada generasi milenial sekarang ,apalagi mereka setelah tammat dari Sekolah akan banyak pergi merantau jauh dari orang tua, dengan tidak memahami hal dimaksud diperantauan bisa berakibat tidak baik dalam peradaban budaya simalungun nantinya, dan banyak hal lagi akibatnya jika partururan dalam budaya Simalungun tidak mereka pahami, hal ini yang perlu sejak dini kita samapaikan buat anak-anak. Demikian juga tentang pakaian adat budaya simalungun yang disamapaikan bapak Djapaten Purba, BME bahwa sejak dini perlu ditanamkan kepada anak-anak milenial, karena pada saat ini sudah banyak kita lihat ditengah-tengah masyarakat dalam acara adat budaya simalungun baik suka maupu n duka sudah tidak sesuai lagi dengan sebenarnya, menurut beliau semua pemakaian hiou simalungun itu memiliki arti dan makna khsusus bagi kehidupan sehar-hari, baik itu gotong, bulang suri-suri, ragi cantik dll termasuk tata cara pemakaiannya misalnya jika seorang bapak memakai suri-suri itu berwarna hitam namu jika perempuan memakai suri-suri bisa warna bebas, demikain juga jika sudah memakai gotong, maka wajib memakai suri-suri dan abit/ragi panei atau ragi cantik untuk laki-laki demikian juga perempuan/ inang jika sudah memakai bulang, wajib memakai suri-suri dan abit. Diakhir acara siswa dan guru SMA GKPS Pamatang Raya sangat mengapresiasi kegiatan sosialisasi ini karena mereka lebih memahami tentang adat budaya simalungun yang bisa mereka terapkan pada kehidupan sehar-hari baik dilingkungan sekolah, keluarga dan kekerabatan dalam lingkungan keluarga mereka, yang diakhiri dengan pemberian cendramata oleh kepala sekolah kepada Ketua Umum HPSI dan kedua narasumber. (rel)

by Redaksi
9 Mei 2026 | 14:54 WIB
0

Simalungun, Aloling Simalungun Harungguan Purba Simalungun Indonesia (HPSI) merasa terpanggil dan bertanggung jawab dalam mensosialisakan adat dan budaya simalungun kepada...

Read more

Discussion about this post

Berita Terbaru

Siantar - Simalungun

Bupati Simalungun Kunker ke Kecamatan Siantar: Alokasikan Anggaran Rp15 Miliar Lebih untuk Rekonstruksi Jalan Perumnas Batu VI – Karang Sari

6 Juli 2026 | 19:52 WIB
Siantar - Simalungun

Pemkab Percepat Pemanfaatan Pasar Relokasi Serbalawan untuk Pemulihan Ekonomi Pedagang Pascakebakaran

6 Juli 2026 | 19:44 WIB
Siantar - Simalungun

Penuh Haru, Bupati Simalungun Tinjau Korban Puting Beliung di Pematang Bandar dan Berikan Bantuan

6 Juli 2026 | 18:37 WIB
Siantar - Simalungun

Hadiri Women Program APKASI 2026, Ketua TP PKK Simalungun: Perempuan Berperan Penting dalam Pembangunan untuk Tingkatkan Daya Saing Daerah

2 Juli 2026 | 18:33 WIB
Regional

Peringatan Hari Jadi Ke 109 Kota Tebing Tinggi : Wali Kota Paparkan Capaian Strategis dalam Paripurna DPRD Hingga Penyerahan Bantuan Pertanian 

2 Juli 2026 | 12:54 WIB
Siantar - Simalungun

Hadiri Syukuran Hari Bhayangkara ke-80, Bupati Simalungun: Kolaborasi yang Solid Akan Memperkuat Stabilitas Daerah

1 Juli 2026 | 17:26 WIB
Siantar - Simalungun

Bupati Simalungun Wujudkan Harapan Masyarakat: Ujung Padang Dapat Pembangunan Jalan Terbesar dalam Sejarah

27 Juni 2026 | 18:31 WIB
Siantar - Simalungun

Sekda Simalungun Buka Business Marching Kemitraan SPPG dan UMKM Pematang Siantar-Kabupaten Simalungun

26 Juni 2026 | 18:23 WIB
Inspirasi

PUSTAKA NOMMENSEN: Kebakaran Pasar Dwikora Bukan Hanya Musibah, tetapi Alarm Tata Kelola

25 Juni 2026 | 20:47 WIB
Siantar - Simalungun

Stand Terbaik Nasional, Kabupaten Simalungun Raih Juara I Lomba Stand PENAS XVII 2026 di Gorontalo

25 Juni 2026 | 20:32 WIB
Siantar - Simalungun

Bupati Simalungun Hadir di Nagori Pamatang Gajing: Pastikan Pelayanan Publik dan Pembangunan Menjangkau Hingga Nagori

25 Juni 2026 | 19:25 WIB
Regional

Buka Rakerda Kadin 2026, Wali Kota Tebing Tinggi Tekankan Kolaborasi Atasi Tantangan Ekonomi Daerah 

25 Juni 2026 | 18:07 WIB
  • Redaksi
  • Policy
  • Terms
  • Pedoman

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Regional
  • Siantar – Simalungun
  • Editorial
  • Ise Do Ham
  • Entertainment
  • Wisata
  • Inspirasi

© 2020-2024 Aloling Simalungun

rotasi barak berita hari ini danau toba berita simalungun